Aprindo Tepis Tudingan Penggesekan Ganda untuk Pencurian Data

Eko Nordiansyah    •    Sabtu, 09 Sep 2017 08:29 WIB
penggesekan ganda kartu
Aprindo Tepis Tudingan Penggesekan Ganda untuk Pencurian Data
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Ismar Patrizki)

Metrotvnews.com, Jakarta: Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menegaskan jika penggesekan ganda (double swipe) yang dilakukan bukan untuk menangkap (capture) data. Penggesekan ganda yang dilakukan bertujuan untuk validasi transaksi.

Ketua Umum Aprindo Roy N. Mandey mengatakan, pihaknya akan melakukan konferensi pers untuk membuktikan tudingan pencurian data. Rencananya klarifikasi akan disampaikan pada Senin pekan depan.

"Aprindo mau klarifiksi bahwa yang apa dituduhkan sebagai meng-capture data itu enggak benar. Kita bisa membuktikannya enggak ada capture data, hanya masalah validasi saja," kata dia ditemui di JCC, Senayan, Jakarta, Jumat 8 September 2017.

Dirinya menambahkan, larangan yang disampaikan Bank Indonesia (BI) terkait bahaya penggesekan ganda berpengaruh terhadap bisnis ritel. Saat ini pembayaran non tunai baik dengan kartu kredit maupun kartu debit mulai banyak ditolak.

"Ini kan sifatnya berkaitan dengan service excellence. Bisa dicek kok apakah kami ada capture data atau enggak, kalau enggak berarti kan hanya untuk pelayanan saja. Apa kaitannya (dengan larangan penggesekan ganda oleh BI)," jelas dia.

Lebih lanjut, penggesekan sekali yang hanya dilakukan di mesin electronic data capture (EDC) dinilai tak cukup untuk memvalidasi pembayaran. Untuk itu kasir perlu melakukan penggesekan lagi di mesin cash register kasir demi meng-input data pembayaran konsumen.

"Kalau enggak gesek di cash register, itu kita perlu memasukkan nomornya satu per satu. Jadi paling swipe-nya kita hilangkan terus kita masukkan input manual. Jadi itu mempengaruhi pelayanan dan kecepatan service excellence kepada konsumen," pungkasnya.

 


(AHL)