HET Beras Masih Dihitung

   •    Sabtu, 15 Jul 2017 11:48 WIB
beras
HET Beras Masih Dihitung
Ilustrasi pedagang beras. (FOTO: Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan menetapkan harga eceran tertinggi (HET) beras. Tujuannya, guna terus menjaga kestabilan harga pasca Ramadan dan Lebaran silam.

Namun, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Tjahya Widayanti mengaku masih menghitung harga yang tepat bersama Kementerian Pertanian.

"Masih dihitung," ujarnya saat dihubungi, Jumat 14 Juli 2017.

Adapun harga beras sebelumnya sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan No 27/2017 tentang Harga Acuan Pembelian di Petani dan Penjualan di Konsumen. Dalam aturan itu, harga acuan beras sebesar Rp9.500 per kg.

Dari situ, Kemendag berniat meningkatkan harga acuan untuk komoditas beras menjadi HET, mengikuti gula pasir, minyak goreng, dan daging beku. Namun, Tjahya juga belum bisa menyebut target waktu penetapan HET beras tersebut.

"Secepatnya," imbuh Tjahya.

Baca: Mendag Segera Tetapkan Harga Eceran Tertinggi Beras

Sementara itu Kementerian Pertanian (Kementan) mengklaim persediaan beras saat ini masih aman dengan total stok 1,7 juta ton.

Cadangan stok tersebut tersebar di seluruh gudang Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) di seluruh Indonesia dan mampu untuk menutup kebutuhan hingga 6 bulan ke depan. Dengan persediaan yang terbilang besar itu Kementan menegaskan pemerintah tidak akan membuka keran impor beras pada tahun ini.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Agung Hendriadi mengungkapkan, pihaknya memiliki skenario tanam yang memungkinkan adanya panen setiap bulan.

"Skenarionya per bulan target tanam 900 ribu sampai dengan 1,2 juta hektare (ha), jadi setiap bulan bisa ada panen," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Selain itu, pemerintah juga telah memaksimalkan potensi air di Indonesia yang sangat besar. Setidaknya, irigasi seluas 3,2 juta tengah terus dibangun. Ditambah lagi embung-embung, sumur dangkal, dan pompa air yang dimaksimalkan di lokasi-lokasi yang tepat.

Hasilnya, Indeks Pertanaman (IP) meningkat menjadi dua kali per tahun. Tidak hanya kepada tanaman padi, solusi itu juga diterapkan pada tanaman jagung, cabai, dan bawang merah. Dengan penanaman pada musim tidak tanam dan penggunaan varietas yang tahan kekeringan serta tahan genangan, tidak akan lagi ada kekurangan produksi di setiap bulan. (Media Indonesia)


(AHL)