Beragam Skema Pilihan untuk Membeli Rumah

Arif Wicaksono    •    Minggu, 28 Jan 2018 14:17 WIB
perumahan
Beragam Skema Pilihan untuk Membeli Rumah
Perumahan. Ant/Zabur Karuru.

Jakarta: Meningkatnya harga kebutuhan tiap tahun, serta harga properti yang ikut serta melambung tinggi seringkali membuat mental kita down untuk membeli properti. Mau nabung, tapi kok rasanya sulit bisa terkumpul dalam waktu dekat.
Enggak perlu putar otak untuk mencari jalan untuk dapat uang agar bia beli rumah. Anda lupa bahwa ada fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR)?

Dikutip dari laman OJK, Minggu, 28 Januari 2018, dengan fasilitas tersebut, bank dapat membantu pembiayaan dengan cara mencicil dalam waktu yang fleksibel, umumnya maksimal 20 tahun atau disesuaikan dengan kemampuan pembayaran dan ketentuan masing-masing bank. Dengan skema itu kegiatan membeli rumah jadi tidak seberat yang dibayangkan. Anda bisa pilih mau skema KPR konvensional atau pembiayaan KPR syariah.

Kemudian selain mencicil dengan fasilitas KPR melalui lembaga jasa keuangan, sekarang banyak merebak pembelian rumah dengan cara mencicil langsung kepada developer (pengembang) dengan akad syariah.  Lazimnya akad yang digunakan adalah Istishna. Istishna adalah jual beli barang dalam bentuk pembuatan barang dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati dengan pembayaran sesuai kesepakatan.

Secara prosedur, setiap adanya pemesanan dari calon konsumen akan dituangkan dalam Surat Pemesanan Pembelian Rumah (SPPR) yang di dalamnya menerangkan semua hal secara tertulis, ditandatangani oleh konsumen, kemudian disetujui oleh pengembang. Tidak ada sistem denda dalam skema ini, begitu pula perbankan dan perusahaan asuransi tidak ikut dilibatkan.

Perlu dipahami, karena peran bank ditiadakan, proses pengecekan kemampuan bayar calon konsumen di Bank Indonesia (BI Checking) menjadi tidak diperlukan, melainkan kemampuan membayar konsumen hanya melalui dinilai melalui rekam jejak di rekening koran mereka.

Oleh karena itu, Anda harus melakukan self assessment untuk mengukur kemampuan bayar cicilan bulanan agar terhindar dari risiko kamu gagal membayar di kemudian hari. Lalu, karena tidak ada peranan dari industri keuangan tertentu, kamu tidak dapat "mengadu" ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) apabila timbul sengketa di kemudian hari. Sekarang pilihan ada di tangan Anda, mau memanfaatkan fasilitas yang mana?

 


(SAW)


BUMN Siap Bersinergi Bangun Kemandirian Pesantren

BUMN Siap Bersinergi Bangun Kemandirian Pesantren

1 day Ago

Menteri BUMN Rini M Soemarno menyatakan perusahaan milik negara di Indonesia siap bersinergi me…

BERITA LAINNYA