Pemerintah Diminta Optimalkan Pengelolaan Pelabuhan Marunda

Husen Miftahudin    •    Rabu, 05 Sep 2018 16:11 WIB
pelabuhan
Pemerintah Diminta Optimalkan Pengelolaan Pelabuhan Marunda
Ketua Umum INSA Carmelita Hartoto. (Foto: MI/Adam Dwi)

Jakarta: Pelaku usaha sektor maritim meminta pemerintah mengoptimalkan keberadaan Pelabuhan Marunda. Pengelolaan Pelabuhan Marunda yang optimal dinilai mampu menopang pelabuhan utama Tanjung Priok.

Ketua Umum Indonesia Shipowner Association (INSA) Carmelita Hartoto meyakini Pelabuhan Marunda punya potensi besar untuk dikembangkan. Jumlah kargo yang kian meningkat membuat pelabuhan ini mampu melayani pelayaran internasional sebagai alternatif Pelabuhan Tanjung Priok.

"Pelabuhan Marunda ini secara letak geografis tidak terlalu jauh dari Tanjung Priok. Keberadaan Marunda menjadi sangat strategis bagi Tanjung Priok untuk menekan yard occupancy ratio-nya," ujar Carmelita kepada wartawan di Jakarta, Rabu, 5 September 2018.

Menurut Carmelita, Pelabuhan Marunda perlu peningkatan keamanan pelayaran, baik dari sisi kapal, anak buah kapal (ABK), maupun aktivitas distribusi kargo. Selain itu, lanjutnya, perlu juga adanya peningkatan infrastruktur, baik di terminal serta akses jalan menuju lokasi.

Terlebih, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 38 Tahun 2012 tentang Rencana Induk Pelabuhan Tanjung Priok. Dalam beleid tersebut, perluasan dan pengembangan Tanjung Priok melingkupi dermaga Tarumanegara, Kali Baru, Marunda, hingga Cilamaya.

Pengembangan Tanjung Priok seperti Pelabuhan Marunda diyakini mampu mengurangi ketimpangan pertumbuhan arus barang dan penambahan areal. Selama 2007 hingga 2011, arus barang di Pelabuhan Tanjung Priok tumbuh rata-rata sebanyak 6,14 persen. Di 2011, arus barang di Pelabuhan Tanjung Priok sebanyak 74,98 juta ton.

Dia mengatakan, saat ini Pelabuhan Marunda telah memiliki sejumlah terminal. Terminal-terminal itu dikelola oleh beberapa Badan Usaha Pelabuhan (BUP), di antaranya Marunda Center Terminal (MCT) dan PT Karya Citra Nusantara (KCN).

"Keduanya mempunyai potensi besar sebagai penopang Tanjung Priok. Dengan keberadaan pengelola terminal, beban Tanjung Priok dapat dilimpahkan ke Marunda sehingga menekan bongkar muat barang curah," tuturnya.

Direktur National Maritime Institute Siswanto Rusdi meyakini Pelabuhan Marunda siap menopang Pelabuhan Tanjung Priok. Pasalnya, pada 2017 total kunjungan dan volume barang yang ditangani di Pelabuhan Marunda sebanyak 33 juta ton.

"Apalagi KCN yang baru mengoperasikan Pier I dari tiga pier yang direncanakan telah menyumbang pemasukan kas negara. Total kontribusi KCN dengan dermaga operasional Pier I mencapai Rp6,1 miliar sepanjang 2016-2017," ungkap Siswanto.

Sementara, Ketua Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Masita mengatakan Pelabuhan Marunda saat ini menjadi lokasi bongkar muat barang curah. Kondisi tersebut memegang peranan penting untuk membantu distribusi barang-barang curah bagi kebutuhan di DKI Jakarta.

"Sebaiknya ke depan Marunda fokus untuk menjadi pelabuhan roll on roll off, baik curah maupun kontainer untuk memenuhi permintaan di Jabodetabek," tutup Zaldy.


(AHL)