Ekonomi Halal Arus Perekonomian Baru

Dian Ihsan Siregar    •    Senin, 30 Jul 2018 10:28 WIB
bappenasekonomi syariah
Ekonomi Halal Arus Perekonomian Baru
Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. (Foto: MI/Adam Dwi)

Jakarta: Kinerja ekspor harus terus ditingkatkan untuk mendorong perbaikan defisit transaksi berjalan. Pemerintah pun harus dapat maksimal memanfaatkan berbagai peluang untuk meningkatkan komoditas untuk diekspor.

"Pemerintah harus secara jeli dan cermat dapat memantau komoditas yang permintaannya tinggi, salah satu diantaranya adalah permintaan akan produk halal," ucap Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro, dalam keterangan resminya, Senin, 30 Juli 2018.

Menurut Bambang, berdasarkan data dari Halal Industry Development Corporation (2016) diperkirakan besaran pasar produk dan jasa halal mencapai USD2,3 triliun. Produk dan jasa halal ini mencakup beberapa sektor di antaranya yaitu, makanan, bahan dan zat additive, kosmetik, makanan hewan, obat-obatan dan vaksin,  keuangan syariah, farmasi dan logistik.

"Potensi produk halal terbesar meliputi sektor industri makanan, minuman dan turunannya, sektor industri farmasi, dan sektor industri kosmetika. Potensi produk dan jasa halal ini merupakan bagian dari penyusunan ekonomi halal," ujarnya.

Bambang mengaku, ekonomi halal merupakan sebuah arus perekonomian baru yang berpotensi mampu mendorong pertumbuhan ekonomi global. Potensi tersebut dapat dilihat dari beberapa hal. Pertami, semakin meningkatnnya pertumbuhan populasi muslim dunia yang diperkirakan akan mencapai 27,5 persen dari total populasi dunia pada 2030.

Kedua, meningkatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara muslim. Ketiga, munculnya pasar halal potensial seperti Tiongkok dan India.

"Mengingat besarnya potensi ini, maka seluruh pihak baik pemerintah, pelaku bisnis, maupun masyarakat secara umum turut berupaya untuk menangkap potensi pasar ini," jelas dia.

Bambang menambahkan, jika melihat data dari Comtrade 2017, peran ekspor produk halal Indonesia mencapai 21 persen dari total ekspor secara keseluruhan. Walaupun besaran peran tersebut masih relatif kecil, tapi perkembangan ekspor produk halal Indonesia mengalami peningkatan sebesar 19 persen dari 2016. Di masa mendatang, peran ekspor produk halal ini harus ditingkatkan.

"Dalam hal ini, kita harus dapat meningkatkan ekspor produk dengan memaksimalkan pemanfaatan permintaan dari negara tujuan ekspor produk halal serta potensi ke negara anggota OKI seperti Mesir dan UAE," jelas Bambang.

Terkait dengan arus perekonomian baru ini, lanjut Bambang, Indonesia berpeluang menjadi pasar produk halal terbesar di dunia sekaligus menjadi produsen produk halal. Hal ini dikarenakan Indonesia berada di posisi strategis bagi halal superhighway link dalam global halal supply chain. Strategi-strategi di sektor perdagangan dan upaya untuk diversifikasi produk perlu difokuskan pada beberapa pasar tujuan potensial produk halal.

"Selain itu peningkatan kualitas dan kuantitas produk yang didapatkan perlu juga untuk diperhatikan agar mampu meningkatkan ekspor produksi barang dan jasa halal Indonesia," ungkap dia.

Bambang juga menilai potensi segmen lain industri halal yang dapat dikembangkan oleh Indonesia adalah segmen pariwisata halal yang saat ini tengah populer dan menjadi fenomena di kalangan pelaku industri pariwisata. Pariwisata halal merupakan segmen yang terus berkembang secara global.

"Sejak 2011, muslim traveler memiliki pengeluaran terbesar dunia pada sektor pariwisata, yang besarnya mencapai USD120 miliar pada 2015. Di mana pertumbuhan wisatawan muslim meningkat hingga 6,3 persen. Pada saat yang sama wisatawan Indonesia meningkat lebih tinggi dan mencapai pertumbuhan sebesar 10,3 persen," pungkas dia.

 


(AHL)