Mempertajam Strategi dan Transformasi SDM Hadapi Normal Baru

   •    Kamis, 07 Feb 2019 14:01 WIB
dunia usaha
Mempertajam Strategi dan Transformasi SDM Hadapi Normal Baru
Ilustrasi (MI/Usman Iskandar)

Jakarta: Riding new normal merupakan sebutan bagi 2019, di mana ada dua ekonomi baru yakni digital economy dan leisure economy yang mulai menemukan critical mass dan menghasilkan the whole new world dengan jutaan peluang pasar dan bisnis baru. Dalam konteks ini, pelaku bisnis harus mulai jeli memasang insting bisnisnya.

Inspirator Kubik Leadership Jamil Azzaini mengingatkan para pemimpin untuk mempertajam strategi agar tidak tersalip dan tertinggal serta mengubah pendekatan pada karyawan. Apalagi, kenormalan baru sudah mulai memperlihatkan bentuknya dan setiap pelaku bisnis harus mulai jeli agar bisa menyalip pemain lain.

"Strategi terbaru diperlukan dan harus tajam. Buka mata lebar-lebar. Cari tahu apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhan dan keinginan karyawan serta gunakan hati untuk mendekati mereka," kata Jamil, di Jakarta, Kamis, 7 Februari 2019.

Ia menambahkan sekali seorang pemimpin dapat menemukan kebutuhan dan keinginan serta benar dalam mendekati karyawan maka produktivitas karyawan akan melejit dan mampu menghasilkan hal-hal besar. Adapun perbedaan generasi adalah pemberian dan harus disikapi dengan positif karena masing-masing mempunyai kelebihan.

"Terus lah untuk tumbuh dan membuka wawasan seluas-luasnya agar mendapatkan keuntungan dari perubahan yang tengah terjadi," kata Jamil.

Sementara itu, Direktur Umum dan SDM BPJS Ketenagakerjaan Naufal Mahfudz menambahkan, BPJS Ketenagakerjaan dituntut harus menyediakan jaminan sosial terbaik untuk Indonesia. Guna mewujudkannya, BPJS Ketenagakerjaan yang memiliki 5.000 Sumber Daya Manusia (SDM) dan tersebar di seluruh Indonesia ini harus mentransformasi karyawannya.

"Baik secara mental yaitu berintegritas tinggi dan secara kemampuan menjadi global people," kata Naufal Mahfudz, seraya menambahkan bahwa strategi yang dilakukan adalah melakukan gaya kepemimpinan yang santai namun mengena.

Kebetulan, lanjutnya, komposisi karyawan BPJS Ketenagakerjaan lebih banyak gen Y atau hampir 70 persen dengan karakteristik milenial. Artinya mereka lebih tanggap pada teknologi, lebih ekspresif, dan lebih ingin instan. Sedangkan sebanyak 30 persen merupakan gen baby boomer dan X yang memiliki keterampilan teknis cukup mumpuni dan loyal pada perusahaan.

"Dengan memperbanyak diskusi, sering melakukan employee gathering, dan terlibat langsung di kegiatan informal yang disukai karyawan, akhirnya meleburkan perbedaan. Bahkan mampu melakukan sinergi kekuatan masing-masing gen," pungkasnya.


(ABD)