Gempa Bumi & Tsunami

Bappenas Siap Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sulteng

   •    Sabtu, 06 Oct 2018 09:40 WIB
bappenasGempa Donggala
Bappenas Siap Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sulteng
Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (MI/IMMANUEL ANTONIUS)

Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) segera melakukan rehablilitasi dan rekonstrusksi wilayah terdampak gempa dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) usai proses tanggap darurat dilakukan.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang PS Brodjonegoro mengungkapkan pihaknya melakukan kajian tentang penanganan bencana di Sulteng. Hasil kajian berupa rencana rehabilitasi dan rekonstruksi akan diaplikasikan setelah masa tanggap darurat selesai. Tidak hanya itu, Bappenas juga melakukan pemetaan rawan bencana yang dihuni masyarakat termasuk di daerah lain.

"Hasil kajian diharapkan memberi solusi yang mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi usai gempa. Kita sudah tahu di mana wilayah-wilayah mana yang rawan bencana," ungkap Bambang, seperti dikutip dari salah satu program Metro TV, di Jakarta, Sabtu, 6 Oktober 2018.

Usai membuat perencanaan yang lebih baik untuk wilayah Palu, Sigi, dan Donggala, lanjut Bambang, langkah berikutnya yang dilakukan Bappenas adalah menata ulang perencanaan tata ruang yang rawan bencana. Langkah tersebut dilakukan dalam rangka meminimalisir kerusakan dan jatuhnya korban jiwa ketika terjadi sebuah bencana di masa mendatang.

"Paling tidak bagaimana kondisi bangunannya dan kondisi infrastrukturnya sehingga kalau ada bencana kerusakan bisa minimal dan korban jiwa kalau bisa tidak ada. Kita berupaya bukan bagaimana mengatasi bencana, tapi bagaimana kita bisa hidup relatif aman di tengah lingkungan yang rawan bencana," tukas Bambang.

Sementara itu, penyakit psikis dideteksi menyerang korban gempa dan tsunami di Sulawesi Selatan. Hal ini ditemukan tim klaster kesehatan penanganan bencana Sulteng. Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemensos Achmad Yurianto menyebut trauma menyerang kelompok rentan seperti anak-anak.

Dia berharap seluruh elemen ikut terlibat untuk menghapus trauma masyarakat terdampak bencana. "Menangani kasus psikologi ini tugas bersama. Lawannya trauma healing (pemulihan trauma) itu trauma building (membangun trauma)," kata pria yang kerap disapa Yuri ini.

Berita bohong atau hoaks, disebutnya, sebagai salah satu penghambat utama pemulihan trauma. Hoaks dapat menyebabkan warga menjadi takut. "Misalnya berita hoaks Palu akan tenggelam yang sempat viral," pungkas dia.

 


(ABD)