Bank Lebih Mudah Kelola Likuiditas dengan GWM Rata-Rata

Eko Nordiansyah    •    Kamis, 24 Nov 2016 19:08 WIB
giro wajib minimum
Bank Lebih Mudah Kelola Likuiditas dengan GWM Rata-Rata
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede. (FOTO: MTVN/Eko Nordiansyah)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) akan menerapkan sistem Giro Wajib Minimum (GWM) Averaging (rata-rata) mulai tahun depan. Dengan adanya aturan ini diharapkan akan memberi kemudahan bagi perbankan untuk mengelola likuiditasnya.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, sistem GWM Averaging membuat bank lebih mudah mengelola likuiditas di periode ketat maupun longgar. Sebab kewajiban bank dalam menaruh simpanan di giro BI akan dihitung secara rata-rata per periode.

"Kebijakan GWM Averaging ini, jadi lebih kepada BI untuk memberikan fleksibilitas untuk perbankan dalam mengelola likuiditasnya. Tapi kita lihat, sebenernya dampaknya ke likuiditas agak netral," kata Josua di Jakarta, Kamis (24/11/2016).

Di tengah mengetatnya likuiditas perbankan, kata Josua, kebijakan GWM Averaging diharapkan akan mendorong perbaikan likuiditas pada perbankan nasional. Hal ini juga sejalan dengan keberhasilan program pengampunan pajak (tax amnesty) di periode pertama tahun ini.

Baca: GWM Averaging Akomodir Pengelolaan Likuiditas Perbankan

"Meskipun tantangan likuiditas semakin meningkat. Dengan arah kebijakan suku bunga AS yang diperkirakan cukup agresif, ini antisipasi dari BI untuk memberikan fleksibilitas buat perbankan mengelola likuiditasnya," jelas dia.

Sebelumnya Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, kebijakan GWM Averaging ini akan memberikan ketenangan perbankan dalam mengelola likuiditas. Apalagi selama ini likuiditas kerap kali naik turun khususnya di periode waktu tertentu.

"Itu bagus, karena kan memang kita selama ini managing short-term liquidity-nya harus ngepasin supaya pas. Dengan GWM Averaging kan kita bisa menjaga supaya kita enggak harus top up," kata Tiko.

Sementara itu, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja memandang jika kebijakan ini memang diperlukan. Terlebih untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan pengetatan likuiditas, apalagi dengan gencaranya pemerintah mengerjakan proyek infrastruktur.

Baca: BI Mulai Terapkan GWM Averaging di Semester II-2017

"Ya harusnya GMW Averaging ini memberikan efisiensi. Itu kan pakai uang sendiri. Untuk bank yang likuditas ketat kita bisa pakai cadangan GWM sendiri daripada dia pinjam di pasar. Kalau di pasar kan bunganya lebih mahal dari itu," ungkapnya.

Sebelumnya dalam Pertemuan Tahunan 2016, BI memperkenalkan kebijakan GWM Averaging kepada industri perbankan di Indonesia. Rencananya kebijakan ini akan mulai diterapkan pada semester II-2017.

"Ini merupakan best practice yang sudah dijalankan di negara-negara maju. Oleh sebab itu kita perlu mencontoh praktik-praktik tersebut. Untuk itu kita akan mempersiapkannya," kata Gubernur BI Agus Martowardojo.


(AHL)

TNI Gagalkan Penyelundupan 24 Ton Garam Ilegal

TNI Gagalkan Penyelundupan 24 Ton Garam Ilegal

13 hours Ago

Aparat TNI AL Wilayah Dumai, Riau, menangkap sebuah kapal motor kayu yang diduga mengangkut 24 …

BERITA LAINNYA