Menangkap Peluang di Era Kekinian

   •    Jumat, 09 Mar 2018 11:06 WIB
mark plus
Menangkap Peluang di Era Kekinian
Founder dan Direktur Utama Markplus Inc Hermawan Kertajaya. (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Jakarta: Dunia kini memasuki era disrupsi yang ditandai perubahan sangat cepat, dengan mengacak-acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru. Disrupsi menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif. Sebuah brand atau merek kini pun tidak lagi hanya berfokus pada produk, melainkan bergeser kepada pengalaman konsumen secara pribadi.

Demikian pendapat Founder dan Direktur Utama Markplus Inc Hermawan Kertajaya yang disampaikan dalam acara The 3rd WOW Brand Festive Day, di Jakarta, Kamis, 8 Maret 2018.

Menurut dia, branding bukanlah kompetisi di antara berbagai merek, melainkan permainan dari marketing atau seni pemasaran. Seorang pemimpin perusahaan, kata dia, harus menguasai game of change yaitu membaca perubahan lebih cepat dan akurat untuk kemudian mengambil setiap kesempatan dari perubahan itu. Dia mencontohkan apa yang dilakukan Nadiem Makarim, bos Go-Jek, yang mampu menangkap peluang dari kemacetan yang dialami warga di Jakarta.

"Dia berhasil menangkap kondisi ini untuk menghadirkan layanan jasa yang mengedepankan pengalaman dan kebutuhan konsumen melalui teknologi aplikasi transportasi Go-Jek-nya," tegas Hermawan.

Selain game of change, hal lain yang harus dipahami adalah game of competitors. Sebab, menurut Hermawan, pada akhirnya konsumen akan membandingkan suatu brand dengan kompetitor serupa yang teknologinya lebih canggih dan berfasilitas lebih luas, untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hal ini pula, kata dia, yang lagi-lagi berhasil ditangkap Nadiem.

"Seorang brand manager bukan cuma memikirkan urusan logo, tetapi melihat siapa kompetitor secara langsung. Sehingga saat berkompetisi di pasar akan lebih efisien. Salah menentukan kompetitor, tentu berakibat salah menyusun strategi," katanya.

Faktor lainnya, menurut Hermawan, perusahaan wajib menguasai games of customer. Seorang brand manager, kata dia, harus bisa melihat dari lingkup besar, perubahan apa saja yang terjadi di masyarakat dan apa yang mereka butuhkan.

Kids Zaman Now

Terkait momentum, ada beberapa faktor yang perlu dilihat produsen mengenai generasi saat ini atau istilahnya kids zaman now. Mereka, kata Hermawan, merupakan kelompok generasi dengan ego besar untuk mendapatkan sesuatu secara instan.

Karakteristik lain yang melekat pada konsumen muda adalan FOMO atau fear of missing out. Rasa ketidakpercayaan dan ketakutan ketinggalan informasi membuat mereka selalu mencari tahu atau kepo. "Buatlah bisnis yang bisa memenuhi hasrat dan keinginan mereka," tegasnya.

Ekonom yang juga Guru Besar Fakultas dan Bisnis Universitas Indonesia Ari Kuncoro dalam berbagai kesempatan menekankan tentang terjadinya pola konsumsi masyarakat dari barang ke pengalaman atau rekreasi. hal ini, kata dia, juga tak lepas dari teknologi digital. Masyarakat, terutama anak muda, lebih senang rekreasi dan mengunggahnya di media sosial ketimbang membeli barang. "Fenomena ini seharusnya juga ditangkap pelaku bisnis," tambah dia. (Media Indonesia)


(AHL)