Menko Luhut Larang Menteri Susi Tenggelamkan Kapal Lagi

Annisa ayu artanti    •    Senin, 08 Jan 2018 20:24 WIB
kelautan dan perikananpenenggelaman kapal
Menko Luhut Larang Menteri Susi Tenggelamkan Kapal Lagi
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Antara/Budi Candra.

Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan melarang Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti untuk menenggelamkan kapal lagi.

"Sudah diberi tahu (Menteri KKP) tidak ada penenggelaman kapal lagi," tegas Luhut di Kantor Menko Kemaritiman, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin, 8 Januari 2018.

Luhut menjelaskan, saat ini sudah tidak diperlukan penenggelaman kapal seperti yang dilakukan Susi selama ini. Meskipun penenggelaman bertujuan untuk meminimalisir illegal fishing. Menurutnya, negara lain sudah mengetahui bahwa Indonesia telah tegas memberantas illegal fishing.

"Sekarang kita ingin lihat ke depan. Semua orang sudah tahu negeri kita tegas," ungkap dia.

Namun demikian, mantan Menkopolhukam ini mengatakan menenggelamkan kapal menjadi opsi terakhir. Penenggelaman kapal boleh diberlakukan untuk pelanggaran-pelanggaran khusus.

"Kalau memang ada, nanti bukan tidak mungkin ditenggelamkan, suatu ketika bisa saja kalau ada pelenggaran khusus tapi tidak seperti produksi," ucap dia.

Luhut juga menjelaskan hal tersebut dalam rapat koordinasi tingkat menteri di bawah Kemenko Kemaritiman membahas bahwa ke depannya Menteri Susi akan fokus kepada upaya peningkatan produksi kelautan dalam negeri. Sesuai arahan Presiden Joko Widodo produksi yang baik dapat mendongkrak ekspor.

"Cukup lah itu, sekarang kita fokus bagaimana meningkatkan produksi supaya ekspor kita meningkat," pungkas dia.

Seperti diketahui jumlah kapal pelaku illegal fishing yang telah ditenggelamkan oleh Susi sejak Oktober 2014 sampai 1 April 2017 adalah 317 kapal. Kapal-kapal tersebut berasal dari berbagai negara yakni 142 dari Vietnam, 76 kapal dari Filipina 76 kapal, 21 kapal dari Thailand.

Kemudian 49 kapal dari Malaysia, 21 kapal dari Indonesia, dua kapal dari Papua Nugini, satu kapal dari Tiongkok, satu kapal dari Belize, dan tanpa negara sebanyak empat kapal.

 


(SAW)