OJK Dorong Pengembangan Produk dan Layanan BPR

Eko Nordiansyah    •    Senin, 10 Jul 2017 11:46 WIB
ojkperbankan
OJK Dorong Pengembangan Produk dan Layanan BPR
Ketua DK-OJK Muliaman D Hadad (Foto: MTVN/Eko Nordiansyah)

Metrotvnews.com, Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong perkembangan industri Bank Perkreditan Rakyat (BPR) melalui pengembangan produk dan layanan BPR serta strategi branding BPR. Upaya ini dilakukan dalam rangka menjawab permasalahan di industri BPR serta tantangan atas persaingan yang terjadi di industri keuangan nasional.

Ketua Dewan Komisioner (DK) OJK Muliaman D Hadad mengatakan, terdapat permasalahan internal yang masih harus dibenahi antara lain permodalan yang masih terbatas, tata kelola, kualitas dan kuantitas Sumber Daya Manusia (SDM), biaya dana mahal yang berdampak pada suku bunga, serta produk dan layanan yang belum variatif. Dari sisi eksternal, tantangan yang dihadapi adalah persaingan yang semakin meningkat.

"Saat ini segmen mikro dan kecil yang selama ini merupakan target pasar BPR juga dilayani oleh lembaga jasa keuangan lain selain bank seperti Lembaga Keuangan Mikro (LKM), koperasi simpan pinjam, credit union, dan fintech, sehingga persaingan pada sektor mikro dan kecil menjadi sangat ketat," ujarnya, di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, Senin 10 Juli 2017.

Untuk penguatan industri BPR, OJK telah menerbitkan rangkaian ketentuan yang memperkuat pengaturan kelembagaan, prudential banking, teknologi informasi, manajemen risiko dan tata kelola (GCG), dan kegiatan usaha yang sesuai dengan kapasitas permodalan BPR, serta kajian pengembangan produk dan layanan serta strategi branding BPR.



Kajian yang dilakukan sejalan dengan ketentuan yang dikeluarkan sebelumnya guna penguatan internal BPR. Kajian tersebut meliputi pengembangan produk dan layanan BPR yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat yaitu berbasis jasa dan teknologi informasi, pengembangan produk tabungan sesuai siklus kehidupan, generic model skim kredit di sektor produktif.

"Dari sisi bisnis, perlu didukung dengan strategi branding BPR untuk mendorong image BPR yang positif dan profesional, sehingga lebih dikenal di masyarakat dan mampu menghadapi persaingan yang ada," jelas dia.

Selain itu diperlukan penguatan kelembagaan dan pembenahan internal, produk dan layanan yang bervariasi dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat disertai dengan strategi formulasi branding. Dengan itu, BPR akan mendapatkan tempatnya di hati masyarakat dan memenangkan persaingan.

Secara prinsip, pasar mikro dan kecil masih terbuka luas bagi BPR untuk berkembang dan meningkatkan kinerjanya di masa mendatang. Selanjutnya hasil kajian diserahkan kepada industri melalui asosiasi BPR (Perbarindo) untuk dikembangkan dan diterapkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan industri.

"Dengan adanya sinergi dan kolaborasi antara OJK, asosiasi, praktisi industri, serta pihak-pihak terkait lainnya, diharapkan penguatan industri dan daya saing BPR dapat diwujudkan," pungkasnya.

Pada April 2017 total aset BPR tumbuh positif sebesar Rp115,2 triliun atau meningkat 10,18 persen (yoy). Jumlah BPR saat ini mencapai 1.621 dengan kredit yang berhasil disalurkan sebesar Rp110,9 triliun atau tumbuh 9,95 persen (yoy) dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp95,5 triliun tumbuh 9,8 persen (yoy).

 


(ABD)