Amunisi Penurunan Bunga Kredit Bertambah

   •    Jumat, 15 Sep 2017 10:15 WIB
suku bunga
Amunisi Penurunan Bunga Kredit Bertambah
Ilustrasi. (FOTO: MTVN/Ardi Yudanto)

Metrotvnews.com, Jakarta: Amunisi perbankan untuk bisa menekan biaya dana bertambah seiring dengan penurunan suku bunga penjaminan sebesar 25 basis yang dilakukan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Ruang untuk penurunan suku bunga kredit makin terbuka dengan semakin rendahnya biaya dana perbankan.

Kemarin, LPS mengumumkan tingkat bunga penjaminan (LPS rate) periode 15 September 2017 sampai 15 Januari 2018 untuk simpanan dalam rupiah di bank umum turun dari 6,25 persen menjadi 6 persen dan pada BPR turun dari 8,75 persen menjadi 8,5 persen. Adapun tingkat bunga penjaminan untuk simpanan dalam valuta asing tetap di 0,75 persen.

Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah menjelaskan alasan LPS rate turun karena melihat tren suku bunga simpanan yang menurun dan didukung suku bunga acuan Bank Indonesia yang telah turun pada Agustus lalu.

Sejak awal tahun hingga saat ini telah terjadi penurunan suku bunga simpanan sebesar 22 basis poin. Trennya ke depan, penurunan suku bunga akan terus terjadi.

"Kami berharap penurunan suku bunga LPS itu mempercepat juga proses penurunan suku bunga simpanan, yang kami harapkan bisa menurun-kan biaya dana dari bank," ujar Halim di Jakarta, kemarin.

Perbankan, lanjut Halim, tentu membutuhkan waktu menurunkan suku bunga deposito dan kredit mereka sebab ada dua hal yang mendasari, yaitu teknikal dan kondisi pasar.

"Secara teknikal tidak mudah mengubah kontrak antara nasabah dan bank. Deposito yang kita dapat suku bunganya baru berakhir kalau kontrak sudah selesai atau jatuh tempo, baru bank turunkan suku bunga. Kedua, kondisi likuiditas dari pasar sendiri," jelasnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana berharap penurunan suku bunga LPS menunjukkan adanya penurunan biaya dana atau cost of fund yang bisa mendorong penurunan suku bunga kredit.

OJK memahami respons durasi waktu kebijakan repricing suku bunga kredit oleh tiap-tiap bank akan berbeda tergantung struktur dan maturity funding dan portofolio kredit bank.

"Meski demikian, penurunan suku bunga penjaminan menunjukkan arah adanya kecenderungan suku bunga dana pihak ketiga turun. Kondisi ini mestinya direspons positif oleh industri perbankan untuk meningkatkan ekspansi kredit produktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Heru.

Pertumbuhan Kredit

Terkait dengan harapan pemerintah agar kredit perbankan mengucur sampai Rp483 triliun tahun depan, Halim Alamsyah mengatakan hal itu mungkin dicapai dengan melihat angka-angka pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan inflasi yang terjaga.

"Kami berharap bank-bank bersiap. Mereka juga sampai sekarang relatif menaruh uang di Bank Indonesia sehingga bila kondisi ekonomi membaik, confidence dari dunia usaha membaik, daya beli juga naik. Saya rasa permintaan kredit akan naik," ujarnya.

Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan mengatakan kondisi perbankan secara industri perbankan sebenarnya sehat, dengan rasio kecukupan modal (CAR) di 23 persen dan NPL di bawah 3 persen. Bila pun ada risiko kredit macet naik, kecukupan modal perbankan Indonesia cukup baik sehingga bisa menyerap kerugian.

"Pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen tahun ini akan menjadi support bagi perbankan nasional," ujar Fauzi.

Lebih lanjut, Fauzi menjelaskan total simpanan dari LPS dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Dengan pertumbuhan ekonomi saja ditambah inflasi, pertumbuhan simpanan di LPS mencapai 9 persen. Persentase nilai yang dijamin LPS juga di atas 50 persen. (Media Indonesia)


(AHL)

<i>Tender Offer</i> Persero dan <i>Holding</i> BUMN

Tender Offer Persero dan Holding BUMN

22 hours Ago

PRESIDEN Joko Widodo telah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2017 tentang Pena…

BERITA LAINNYA