BSM Catat Laba Tumbuh 19,21% di Kuartal I-2017

Angga Bratadharma    •    Senin, 15 May 2017 10:51 WIB
bsm
BSM Catat Laba Tumbuh 19,21% di Kuartal I-2017
Nasabah bertransaksi di Bank Syariah Mandiri, Jakarta (MI/PANCA SYURKANI)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Bank Syariah Mandiri (BSM) mencatat laba bersih sebesar Rp90,26 miliar di kuartal I-2017. Adapun perolehan tersebut mengalami pertumbuhan sebanyak 19,21 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp75,72 miliar.

Direktur BSM Choirul Anwar menyatakan, kondisi tersebut terjadi seiring dengan upaya manajemen meningkatkan kualitas pembiayaan dan semakin ketatnya kondisi ekonomi sampai dengan paruh pertama di tahun ini. BSM terus mencermati perkembangan situasi dan kondisi perekonomian sekarang ini.

"Alhamdulillah, strategi yang ditetapkan membuahkan hasil," kata Choirul, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin 15 Mei 2017, seraya menambahkan bahwa manajemen BSM fokus pada tiga strategi yakni perbaikan kualitas aktiva produktif dan optimalisasi recovery, peningkatan bisnis secara sustain, serta peningkatan produktivitas dan efisiensi.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, peningkatan laba BSM ditopang antara lain oleh perbaikan kualitas pembiayaan, recovery ex write off (WO), meningkatnya fee based income, dan pengendalian biaya operasional. Pada triwulan I-2017, BSM melakukan penghematan biaya PPAP dari perolehan recovery ex wo sebesar Rp123 miliar.

Di sisi lain, biaya operasional yang diindikasikan dengan rasio BOPO dapat dikendalikan dan menurun 0,6 persen menjadi 93,67 dari sebelumnya 94,27. Fee based income perusahaan juga mencatatkan kinerja positif yang tumbuh menjadi Rp256 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp200 miliar atau tumbuh 28,19 persen.



Untuk perbaikan kualitas pembiayaan, BSM berhasil menurunkan rasio Non Performing Financing (NPF Nett) semula 4,32 persen di Maret 2016 menjadi 3,16 persen di Maret 2017. Adapun NPF Gross membaik dari 6,42 persen per Maret 2016 menjadi 4,91 persen per Maret 2017.

"Sementara itu BSM mulai meningkatkan persentase rasio pencadangan terhadap NPF (cash coverage ratio) dari 56,99 persen periode sebelumnya menjadi 65,30 persen," tuturnya.

Selain itu, pertumbuhan laba juga disebabkan meningkatnya pendapatan margin bagi hasil sebesar 10,35 persen secara year on year (yoy) dari Rp1,55 triliun menjadi Rp1,71 triliun per Maret 2017. Sedangkan aset tumbuh sebesar 11,83 persen (yoy) dari Rp71,55 triliun menjadi Rp80,01 triliun.

Sementara untuk pembiayaan tumbuh sebesar 9,14 persen (yoy) dari Rp50,78 triliun menjadi Rp55,42 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 12,47 persen (yoy) dari Rp63,16 triliun menjadi Rp71,04 triliun dengan dana murah sebesar Rp35,43 triliun atau 49,88 persen dari total DPK.

Pembiayaan segmen commercial banking tumbuh sebesar 14,78 persen (yoy) menjadi  Rp6,52 triliun, dengan fokus pada healthcare dan education.  Pembiayaan segmen mikro juga tumbuh 11,59 persen (yoy) jadi Rp4,19 triliun, disusul pembiayaan segmen small banking yang tumbuh 5,45 persen, dan pembiayaan segmen corporate banking tumbuh 4,23 persen.

Dari sisi permodalan, rasio permodalan BSM cukup kuat dengan peningkatan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 1,01 persen dari 13,39 persen per Maret 2016 menjadi 14,40 persen pada Maret 2017. Disamping pertumbuhan pembiayaan, manajemen berhasil membukukan laba operasional sebelum beban PPAP/CKPN sebesar Rp503 miliar.

 


(ABD)