Freeport Menanti Perpanjangan Izin Ekspor

Suci Sedya Utami    •    Rabu, 27 Feb 2019 20:30 WIB
freeportekonomi indonesia
Freeport Menanti Perpanjangan Izin Ekspor
PT Freeport Indonesia (PTFI). Dok:MI.

Jakarta: PT Freeport Indonesia (PTFI) menyatakan telah mengajukan perpanjangan izin ekspor konsentrat untuk satu tahun mendatang. Pasalnya izin ekspor Freeport telah habis pada 15 Februari 2019.

Juru Bicara Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan saat ini pihaknya tengah menunggu surat persetujuan ekspor (SPE) tersebut. Izin perpaanjangan ekspor diberikan oleh Kementerian Perdagangan. Namun sebelum itu, Freeport harus terlebih dulu mendapat rekomendasi perpanjangan ekspor dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

"Sudah diajukan sebelum berakhir, sebelum tanggal 15, tapi belum keluar," kata Riza ditemui di Hotel Fairmont, Jakarta Pusat, Rabu, 27 Februari 2019.

Kendati belum mendapat perpanjangan, Riza mengaku hal tersebut tidak mengganggu operasional perusahaan. Dia bilang produksi masih bisa ditampung di gudang penyimpanan untuk kemudian dikirimkan ke smelting di Gresik.

"So far masih belum terganggu. Gudang kita masih bisa melakukan pengiriman ke Gresik masih jalan," jelas dia.

Lebih jauh terkait dengan kuota ekspor yang diajukan untuk tahun ke depan, Riza masih tutup mulut. Tahun lalu, ekspor mineral Freeport sebesar 1,2 juta wet metric ton (WMT) dari total produksi sebesar 2,1 juta ton.

Sementara tahun ini, produksi konsentrat Freeport Indonesia akan mengalami penurunan sekitar 57 persen dibanding tahun lalu sejalan dengan adanya transisi dari tambang Grasberg ke tambang bawah tanah.
 
Direktur Mineral Yunus Saefulhak mengatakan tahun lalu realisasi produksi bijih tembaga mentah atau ore mencapai 270 ribu ton per hari dengan jumlah produksi konsentratnya mencapai 2,1 juta ton dalam setahun.
 
Dari produksi konsentrat tersebut sebanyak 1,2 juta ton diperuntukan untuk ekspor sedangkan 800 ribu tonnya disalurkan ke PT Smelting Gresik untuk dilakukan pemurnian dan pengolahan.

"Untuk tahun ini berdasarkan RKAB (rencana kerja dan anggaran biaya) yang diajukan terjadi penurunan produksi," kata Yunus.
 
Yunus merinci produksi konsentrat Freeport tahun ini diperkirakan hanya 1,2 juta ton. Dari jumlah tersebut 200 ribu ton akan diekspor dan satu juta ton akan diolah di PT Smelting Gresik.


(SAW)