Mengenal Arini Subianto, Wanita Terkaya di Indonesia

Arif Wicaksono    •    Minggu, 03 Dec 2017 15:00 WIB
ekonomi indonesia
Mengenal Arini Subianto, Wanita Terkaya di Indonesia
Arini Subianto. ANTARA FOTO. Rosa Panggabean)

Jakarta: Pengusaha Indonesia Benny Subianto pernah mengatakan kepada Forbes bahwa dia menginginkan setidaknya satu dari tiga putrinya untuk mengambil alih bisnisnya.

Keinginannya itu akhirnya dipenuhi oleh putri tertuanya, yakni Arini Sarraswati Subianto, 47. Tak lama setelah kematian Benny pada Januari lalu, wanita ini menjadi direktur utama perusahaan induk keluarga, Persada Capital Investama.

Dia mengawasi segala hal mulai dari produk pengolahan kayu dan minyak sawit sampai pengolahan karet, dan batu bara. Arini masuk daftar orang terkaya Indonesia, menyajikan kekayaan keluarga dengan kekayaan bersih sebesar USD820 juta.

Adik perempuan bungsunya, Ardiani, 40, yang sebelumnya adalah ibu rumah tangga, sekarang bekerja sama dengan Arini di Persada. Sementara saudara perempuan lainnya Armeilia, 44, menjalankan bisnis desain grafisnya sendiri.

Arini, seorang sosialita terkemuka yang paling dikenal karena kecintaannya pada buku dan cinderamata. Pada 2001, Arini mendapatkan gelar sarjana dari Parsons School of Design dan MBA di Fordham University, membuka toko hadiah dan furnitur di Jakarta.

Dua tahun kemudian, dia menggabungkan toko kecilnya dengan toko buku tetangga Aksara, yang didampingi oleh teman sekolah menengahnya Winfred Hutabarat, yang bersama dengan dia menghabiskan waktu di AS.

"Kami memutuskan untuk membangun sesuatu yang unik di Jakarta, membawa pulang pengalaman ritel yang kami dapatkan di Amerika," kata Arini.

Aksara hari ini, yang berarti huruf alfabet, memiliki tiga lokasi di kota, tempat ia menjual segala sesuatu mulai dari buku-buku asing hingga CD dan hadiah.

Karier Benny

Berbeda dengan putrinya, Benny mengikuti jalur karir yang lebih tradisional. Ia memulai karir pada 1969 sebagai salesman di perusahaan alat berat, Astra International.

Di tahun-tahun mendatang Astra menjadi distributor untuk Toyota, Honda, dan Xerox, dan muncul sebagai salah satu grup bisnis terbesar di negara ini.

Sementara Astra tumbuh, Benny membuat nama untuk dirinya sendiri sebagai pengusaha yang dapat dipercaya, berkat kemampuan jejaringnya, dan dengan cepat meningkat melalui jajaran perusahaan. Pada 1988, dia meraih lima persen saham di Astra sehingga akhirnya menjabat sebagai wakil presiden.

Benny juga membeli sekitar 12 persen saham di Adaro Energy, yang sekarang merupakan salah satu perusahaan batu bara terbesar di Indonesia.

"Alasan saya untuk menjadi pengusaha itu sederhana, saya ingin terus pergi ke kantor bahkan di usia 71," kata dia. Sekarang Arini adalah penerusnya.

Catatan redaksi: Paragraf pertama artikel ini diganti pada Senin, 4 desember 2017, pukul 12.39 WIB. Semula ditulis "Pengusaha Tionghoa Indonesia Benny Subianto..." Kata Tionghoa kami hapus. Selain tidak relevan, penyematan kata tersebut pun salah. 

Dengan demikian kesalahan telah kami perbaiki. Kami mohon maaf kepada Ibu Arini Sarraswati Subianto dan keluarga besar almarhum Bapak Benny Subianto atas kekeliruan tersebut dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat pemberitaan ini. Kami berkomitmen untuk tidak mengulanginya lagi. Terima kasih.



 


(SAW)