Pertamina Duga Ada Permainan Politik di Balik Kelangkaan BBM

Annisa ayu artanti    •    Senin, 12 Mar 2018 16:54 WIB
pertamina
Pertamina Duga Ada Permainan Politik di Balik Kelangkaan BBM
Pertamina. MI/SAFIR MAKKI.

Jakarta: PT Pertamina (Persero) menduga isu kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) premium penugasan yang penjualannya langka di luar Jawa, Madura, dan Bali hanya masalah politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Saat ini perseroan mengklaim pasokan premium penugasan di dua daerah yang dikatakan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) yakni Riau dan Lampung aman dan tidak mengalami kekurangan.

"Tidak ada kelangkaan. Oh Riau kan politik," kata Direktur Pemasaran Korporat M Iskandar di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Senin, 12 Maret 2018.

Vice President Retail Fuel Marketing Pertamina Jumali juga menegaskan tidak ada kelangkaan sama sekali di daerah. Perseroan menduga, isu kelangkaan itu keluar karena terkait dengan Pilkada.

"Itu kan mau ada Pilkada sehingga kebetulan salah satu calonnya itu memang punya SPBU, saya tidak tahu apakah dihubungkan itu atau tidak," ucap Jumali.

Sampai saat ini Pertamina masih menyalurkan premium penugasan sesuai yang ditugaskan BPH Migas yaitu sebanyak 7,5 juta kiloliter (kl) sampai akhir 2018. Ia juga membantah bahwa ada pengiritan dalam menyalurkan premium di daerah-daerah.


"Itu kan sudah ada penugasan, sesuai dengan penugasan itu kita salurkan. Kayak kemarin ada masalah di Lampung, kan kita juga dicek BPH juga kondisi sama, aman tidak ada kelangkaan," jelas Jumali.

Sebelumnya, BPH menyatakan penyebab premium penugasan langka di beberapa daerah karena permainan Pertamina.

Setelah melihat langsung ke lapangan, Anggota Komite BPH Migas Hendry Ahmad menemukan adanya dua indikasi penyebab premium langka yaitu aksi pengitiran atau pengurangan pasokan premium dengan sengaja supaya kuotanya cukup hingga akhir tahun dan pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang lebih memilih menjual BBM non-subsidi seperti pertalite dan pertamax dibandingkan premium karena faktor keuntungan yang diperoleh lebih besar.

"Indikasi di lapangan ada dua situasi yang terjadi, pertama ada beberapa wilayah yang karena kekhawatiran tidak cukup sampai akhir tahun mereka (Pertamina) berusaha mengurangi. Kedua, dari SPBU sendiri karena margin premium lebih kecil dari pertalite atau pertamax," kata Hendry.


(SAW)