Rendahnya Inflasi tak Cerminkan Daya Beli Rendah

Eko Nordiansyah    •    Selasa, 05 Jun 2018 20:40 WIB
inflasi
Rendahnya Inflasi tak Cerminkan Daya Beli Rendah
Illustrasi Daya Beli (MI/Angga Yuniar).

Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyebut rendahnya inflasi Mei 2018 dibandingkan periode ramadan tahun-tahun sebelumnya bukan dikarenakan melemahnya daya beli. Inflasi ramadan tahun ini yang rendah disebabkan terkendalinya harga pangan bergejolak (volatile food) oleh pemerintah.

Kepala Grup Riset Ekonomi Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Reza Anglingkusumo mengatakan, daya beli masyarakat tetap terlihat dari inflasi bulan lalu. Jika daya beli rendah, menurut dia, harga akan turun sehingga menyebabkan deflasi.

"Kalau dikatakan daya beli rendah, seharusnya harga-harga turun karena tidak ada yang beli. Tapi ini kan inflasi yang artinya masih ada kenaikan harga yang artinya masih ada supply and demand," kata Reza di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa, 5 Juni 2018.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Mei 2018 sebesar 0,21 persen lebih rendah periode sama tahun lalu, meski naik dari bulan sebelumnya. Secara tahun kalender atau (ytd) inflasi tercatat sebesar 1,30 persen, sedangkan secara tahun ke tahun (yoy) inflasi tercatat 3,23 persen.

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan Adrianto menambahkan, daya beli masyarakat tak bisa dilihat dari inflasi yang lebih rendah bulan lalu. Menurut dia, ada hal lain yang menyebabkan daya beli masyarakat masih rendah dibandingkan enam hingga tujuh tahun lalu.

"Kalau daya beli ini bukan isu ya, karena masyarakat masih ada belanja. Jadi pemerintah tidak melihat adanya isu daya beli karena (ekonomi) sudah mulai membaik. Ada hal lain yang jadi faktor kenapa belanja konsumsi rumah tangga enggak terlalu tinggi," jelas dia.

Secara komponen inflasi, inflasi inti tercatat sebesar 0,21 persen, harga yang diatur pemerintah (administered price) sebesar 0,27 persen, dan pangan bergejolak (volatile food) sebesar 0,19 persen. Sedangkan secara kelompok pengeluaran, kelompok sandang mengalami inflasi paling besar.


 


(SAW)