Pedagang Mengeluh Akibat Harga Daging Ayam Naik

Kautsar Widya Prabowo    •    Kamis, 14 Jun 2018 06:02 WIB
daging ayamharga ayam
Pedagang Mengeluh Akibat Harga Daging Ayam Naik
Ilustrasi (Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo)

Jakarta: Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok terpantau naik seiring dengan permintaan jelang Idulfitri. Salah satu kenaikan yang terjadi ialah harga daging ayam potong yang harganya mencapai Rp40 ribu sedangkan pada hari-hari biasa berkisar Rp35 ribu.

Salah satu pedagang di Pasar Kramat Jati, Anto, mengeluhkan dengan naiknya harga ayam tersebut. Pasalnya harga yang ditawar pembeli seringkali di bawah modal jual. Kondisi ini tentu memberikan efek tersendiri terhadap penghasilan Anto.

"Semenjak puasa pasokannya ada terus, tapi harga jual di pasar tidak ikut naik karena pelanggan menginginkan harga antara Rp30 sampai Rp35 ribu. Sedangkan modalnya saja Rp38 ribu," kata Anto, kepada Medcom.id, di Jakarta, Rabu, 13 Juni 2018.

Menurutnya kondisi tersebut terjadi lantaran pemerintah belum bisa menstabilkan harga dan mengimbangi permintaan masyarakat. Akhirnya, dampaknya adalah sulitnya para pedagang meraup keuntungan. Bahkan, Anto mengaku kebingungan untuk membagi hasil dengan lima anak buahnya.

"Sehari kadang hanya dapat Rp1 juta. Dipotong Rp650 ribu untuk lima anak buah. Untuk sewa gerobak 200 ribu, bayar keamanan Rp8 ribu, bayar air Rp12 ribu, dan untuk yang menarik gerobak Rp6 ribu. Sisa-sisa Rp124 ribu," tuturnya.

Sedangkan selama Ramadan, Anto mengaku, permintaan justru menurun dibandingkan dengan hari biasanya. Apabila di hari biasa Anto mampu menjual sebanyak 500 potong maka di Ramadan kali ini hanya mampu menjual 400 potong.

"Hari biasa 500 potong meski harga murah Rp35 ribu per potong," ungkapnya. Terkait persoalan tersebut, Anto menyikapinya dengan menjual ati ampela sebesar Rp2 ribu dan usus Rp15 ribu.

Senada dengan Anto, pedagang asal Klaten, Tri Subarti, mematok satu ekor ayam potong seberat 1,3 kg berkisar Rp45 ribu, di mana jika hari biasa dijual Rp40 ribu. Ia juga mengeluhkan peningkatan harga yang terjadi seminggu sebelum Lebaran tersebut. Kondisi itu membuat beberapa pedagang memilih untuk menutup dagangan lantaran harga jual yang tinggi.

"Sudah ada tujuh teman saya yang tutup lapaknya karena harganya tinggi," ungkapnya.

Tri Subarti pun mengakui jumlah pengunjung menurun selama Ramadan tahun ini. Bahkan, ia pernah dalam sehari tidak dapat menjual 50 ekor ayam yang biasanya bisa menjual sebanyak 60 ekor ayam. Tidak hanya itu, penurunan kian terjadi sejak tiga hari sebelum Idulfitri.

"Dua sampai tiga hari jelang Lebaran bisa menjual 100 ekor, tapi sebelumnya dalam Ramadan tidak dapat terjual 50 ekor," tutupnya.

 


(ABD)


Bedah Editorial MI: Membendung Efek Turki

Bedah Editorial MI: Membendung Efek Turki

18 hours Ago

Perlambatan ekonomi Turki sebagai akibat terjerembapnya lira, mata uang mereka, hingga lebih da…

BERITA LAINNYA