50 Persen Wilayah Kalsel Digantikan Pertambangan dan Kelapa Sawit

   •    Kamis, 07 Jun 2018 15:02 WIB
pertambangan
50 Persen Wilayah Kalsel Digantikan Pertambangan dan Kelapa Sawit
Illustrasi. Ant/Puspa Perwitasari.

Banjarmasin: Ketua Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Selatan, Kisworo Dwi Cahyono, mengatakan sebanyak 50 persen wilayah provinsi setempat hilang digantikan pertambangan batubara dan perkebunan sawit.

Menurut Kisworo dari 3,75 juta hektare (ha) wilayah Kalsel, sebanyak 1,2 juta ha (33 persen) menjadi lokasi pertambangan batu bara dan 618 ribu ha (17 persen) berubah menjadi perkebunan sawit berskala besar.

Menanggapi data tersebut, tambah dia, Walhi telah melayangkan gugatan terhadap Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan melalui Dirjen Minerba Bambang Gatot Ariyono, di PTUN Jakarta, sejak Rabu, 4 Maret 2018.

Materi gugatan terhadap SK Menteri ESDM bernomor 441.K/30/DJB/2017, tertanggal 4 Desember 2017 tersebut, tambah dia, berisi tentang IUPK operasi produksi batu bara salah satu perusahaan tambang di Kalsel.



"Saat ini, sebanyak 399 ribu ha atau 41 persen dari 984.791 ha kawasan hutan telah dikuasai izin tambang," katanya dikutip dari Antara, Kamis, 7 Juni 2018.

Akibatnya, sebanyak 41 persen hutan di Pegunungan Meratus dan hutan lainnya di Kalsel, dibebani izin tambang. Menurut dia, di dalam kawasan hutan tersebut terdapat sungai, yang selama ini menjadi salah satu tumpuan hidup sebagian besar warga Kalsel.

Kondisi itu, tambah dia, menjadi ancaman serius bagi kelestarian sumber daya air di Kalsel. Bahkan diperkirakan ratusan kilometer sungai sudah berubah menjadi areal pertambangan.

Tidak hanya sumber air, pertambangan juga telah mengancam kawasan pegunungan Meratus. "Tambang telah menguasai 33 persen luas Kalsel dan 17 persen lainnya dikuasai izin perkebunan," katanya.

Sebelumnya, Universitas Nahdlatul Ulama (NU) Kalsel dan Komunitas Jurnalis Pena Hijau Indonesia menggelar diskusi lingkungan dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup se-Dunia dengan tema sejahtera tanpa tambang.

Hadir dalam diskusi ini, mantan Ketua Tanfidziah PWNU Kalsel HM Syarbani Haira, Sekretaris PWNU Kalsel Berry Nahdian Forqan, dan Direktur Eksekutif Walhi Kalsel Kisworo Dwi Cahyono.

Berry Nahdian Forqan menyatakan suatu daerah bisa sejahtera dengan adanya tambang, dan ada pula yang sejahtera tanpa adanya tambang. "Yang bermasalah itu pada tata kelolanya. Apakah benar atau tidak," kata mantan Direktur Eksekutif Walhi Kalsel ini.

Tata kelola sumber daya alam diibaratkan sekarung beras. Di mana, seharusnya satu karung bisa untuk satu bulan, jangan dihabiskan dalam satu hari. "Catatan statistik resmi, pertumbuhan ekonomi daerah-daerah tambang di Kalsel pada periode 2014-2016 cenderung stagnan," pungkas dia.


(SAW)