Atasi Depresiasi, Pemerintah Lebih Banyak Tarik Utang Rupiah

Eko Nordiansyah    •    Selasa, 21 Aug 2018 17:40 WIB
utang luar negeri
Atasi Depresiasi, Pemerintah Lebih Banyak Tarik Utang Rupiah
Rupiah. MI/RAMDANI.

Jakarta: Pemerintah menyebutkan utang akan difokuskan untuk berdominasi rupiah dibandingkan utang berdominasi valuta asing. Hal ini untuk mengantisipasi tekanan depresiasi mata uang karena penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Direktur Strategi dan Portofolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Schneider Siahaan mengatakan sejauh ini depresiasi mata uang rupiah berpengaruh terhadap utang pemerintah.

"Tapi berutangnya kita sekarang banyak yang rupiah, kalau rupiah kan pinjaman kecil kan tidak terpengaruh depresiasi," kata dia ditemui di Gedung Frans Seda DJPPR, Jalan Wahidin Raya, Jakarta Pusat, Selasa, 21 Agustus 2018.

Dirinya menambahkan utang pemerintah saat ini 60 persen dalam bentuk rupiah. Sementara hanya 40 persen dari total utang merupakan utang dalam bentuk mata uang asing.

"Dan itu kita bangun dari dulu. Dahulu pinjaman luar negeri  dalam bentuk dolar, jadi pada saat seperti ini berat karena semua bayarnya pakai depresiasi sekarang sekitar 60 persen rupiah," jelas dia.

Menurut dia, utang pemerintah saat ini dalam kondisi aman dan masih di bawah batas ketentuan yang ada.  Sampai dengan Juli 2018 utang pemerintah tercatat sebesar Rp4.253 triliun atau 29,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Kalau dari studi yang ada 60 persen terhadap PDB itu masih oke. Dan kita itu maksimal tiga persen dari defisit setiap tahun maksimal untuk negara berkembang  distudi yang ada dan kita itu semua di bawah itu jauh," pungkasnya.

 


(SAW)