Kebijakan Industri Tekstil Harus Dorong Penyerapan Tenaga Kerja

Ade Hapsari Lestarini    •    Kamis, 18 May 2017 11:51 WIB
industri tekstil
Kebijakan Industri Tekstil Harus Dorong Penyerapan Tenaga Kerja
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Metrotvnews.com, Jakarta: Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat menilai langkah pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan, membatasi impor tekstil demi mendorong pertumbuhan industri tekstil dalam negeri sudah tepat.

Namun, dirinya memberi catatan, bahwa kebijakan tersebut juga harus diimbangi dengan pengetahuan mendasar berkaitan dengan beragam jenis produk tekstil.

"Kebijakan itu memang sudah jalan dan menurut kami sudah on the track. Kebijakan yang mendukung peningkatan penyerapan tenaga kerja dan dukungan ke industri tentu kami dukung. Asalkan juga tentu tidak menjadi hambatan bagi industri. Untuk itu, pemerintah juga harus punya pengetahuan yang luas berkaitan dengan jenis ragam produk tekstil itu sendiri," ucap Ade melalui keterangan resminya di Jakarta, Kamis 18 Mei 2017.

Baca: Presiden Berantas Praktik Impor Tekstil Ilegal

Saat ini, permintaan tekstil justru lebih banyak dari luar negeri. Dari dalam negeri, meski menjelang Lebaran, belum ada lonjakan permintaan. Tak heran, dari sisi kinerja ekspor, juga tetap positif yakni naik 2 persen pada Januari-Februari 2017 dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya (year on year).

"Pemerintah tentu harus membuat kebijakan yang benar, seiring sejalan dengan kepentingan mendukung  industri dalam negeri. Kami mendukung kebijakan yang ujungnya berorientasi menambah tenaga kerja. Sebaliknya jangan sampai dibuat kebijakan yang kontraproduktif, alias justru berdampak ke pengurangan tenaga kerja," tutur Ade.

Peningkatan permintaan ekspor dari luar negeri karena dari sisi kualitas produk industri tekstil Indonesia sudah bisa bersaing dengan produk sejenis dari negara lain. Terutama negara-negara di kawasan ASEAN.

Dukungan kebijakan di dalam negeri seperti berkurangnya waktu bongkar muat (dwelling time) di pelabuhan, meningkatnya jumlah operator garmen hasil pendidikan vokasi, hingga insentif yang diberikan Kementerian Keuangan, jadi pemicu perbaikan kinerja ekspor industri tekstil. Perbaikan bongkar muat menjadikan proses ekspor lebih cepat.

Baca: Negara Rugi Miliaran Rupiah Akibat Impor Tekstil Ilegal

Di sisi lain, keluarnya Amerika dari perjanjian Trans-Pacific Partnership juga bisa menjadi pendorong tambahan agar kinerja ekspor produk tekstil Indonesia ke Amerika makin meningkat. Pasalnya, produk Indonesia akan langsung memiliki daya saing yang sama dengan produk-produk sejenis dari Vietnam dan negara lain.

"Tentu kita berharap agar kinerha ekspor tekstil kita ke Amerika makin positif," ujar Ade.

Ade optimistis kinerja sektor tekstil tahun ini akan tetap tumbuh positif. Ia berharap, capaian positif industri di kuartal satu, juga harus dibantu pemerintah dengan menghadirkan berbagai kebijakan yang benar benar melindungi dan mendorong industri tekstil dalam negeri makin memiliki daya saing dan menjadi pemimpin pasar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, dari Januari Februari 2017 nilai ekspor garmen Indonesia USD1,26 miliar naik 6,5 persen dibanding periode sama tahun lalu. Sementara ekspor produk tekstil tertekan 2,5 persen menjadi USD733 juta di Januari-Februari tahun ini.

 


(AHL)

Menkeu: Level Utang Indonesia Masih Aman

Menkeu: Level Utang Indonesia Masih Aman

22 minutes Ago

Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan kondisi utang Indonesia masih di level aman jika diband…

BERITA LAINNYA