Cuaca Ekstrem, Kementan Jamin Stok Pangan Aman

   •    Selasa, 09 Jan 2018 19:28 WIB
pangankementerian pertanian
Cuaca Ekstrem, Kementan Jamin Stok Pangan Aman
Menteri Pertanian Amran Sulaiman. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)

Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan produktivitas pangan tidak menurun bahkan dalam kondisi cuaca ekstrem yang tidak bersahabat terhadap petani.

Mengatasi hal ini, Kementan mengubah pola tanam petani menjadi dua kali lipat pada Juli-Agustus-September. Jika biasanya petani menanam padi hanya satu atau dua kali dalam setahun, kini ditambah menjadi tiga kali dalam setahun.

Perubahan pola tanam tersebut terbukti dengan masih terus berlangsungnya panen di berbagai wilayah Indonesia pada Desember. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya, Desember dan Januari dikenal sebagai masa paceklik atau masa sulit untuk produksi padi karena musim kemarau.

Tapi kondisi masa paceklik ini diatasi pemerintah dengan memberikan berbagai solusi bagi petani, di antaranya rehabilitasi jaringan irigasi tersier, pembangunan embung, sumur dangkal dan dalam serta membangun Rain Water Harvesting (RWH), dan juga bantuan alat mesin pertanian (alsintan) yang telah dibagikan kepada petani 300 ribu unit hingga saat ini.

"Saya ingin sampaikan bahwa sudah saatnya paradigma yang lama kita tinggalkan. sekarang pertanian Indonesia memiliki paradigma baru, yakni tiada hari tanpa tanam, tiada hari tanpa panen. Hari ini ada Pak Setyo melihat bersama, ada juga dari Menko Perekonomian, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri. Yang ingin saya katakan, kita tiada hari tanpa panen, beras cukup bahkan surplus," tegas Menteri Pertanian Amran Sulaiman pada saat meninjau panen di Karawang, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, Selasa, 9 Januari 2017.

Wilayah Karawang disebut siap panen seluas 5.695 hektare (ha) pada Januari ini. Selain Karawang, sejumlah wilayah lainnya di Indonesia juga terpantau telah dan siap melakukan panen. Berdasarkan pemantauan tim Kementan hanya untuk periode minggu pertama Januari 2018 saja, di pulau Jawa panen sudah mulai dilakukan di Jawa Barat (Karawang, Majalengka, Garut, Sumedang, Bandung, Sukabumi, Tasikmalaya, Subang, Bogor, dan Cirebon).

Kemudian Banten (Serang, Pandeglang, Lebak), DI Yogyakarta (Gunung Kidul), Jawa Tengah (Tegal, Semarang, Boyolali, Banjarnegara, Kudus, Cilacap, Purbalingga, Salatiga, Temanggung), serta Jawa Timur (Jember, Lamongan, Pasuruan).

Sedangkan untuk wilayah Sumatera panen terpantau dilaksanakan di Sumatera Utara (Langkat, Deli Serdang, Simalungun), Sumatera Selatan (Banyuasin, Musi Rawas, Pagar Alam), Lampung (Lampung Tengah, Lampung Timur). Sementara Sulawesi, panen dilakukan di Sulawesi Tenggara (Konawe, Wawatobi, Kolaka Timur, Sigi), Sulawesi Selatan (Soppeng, Bone, Luwu), Gorontalo, Sulawesi Barat (Mamuju), dan Sulawesi Tengah. Panen juga sudah mulai dilakukan di Kalimantan Timur (Kukar, Penajam Pasir Utara), Maluku Utara (Halmahera Tengah, Halmahera Barat, Tidore), Maluku (Maluku Tengah) serta Bali (Ginyar, Klungkung, Bangli).

Pendampingan ke Petani

Titik panen diprediksi akan terus bertambah memasuki pertengahan Januari. Untuk memastikan petani dapat tetap melakukan tanam dan panen di tengah kondisi cuaca ekstrem, Kementan terus melakukan pendampingan intensif dengan memerhatikan berbagai faktor, seperti pemilihan varietas unggul, pengaturan jadwal tanam, pemumpukan, serta pengendalian OPT.

Pendampingan dilakukan sehingga petani yang selama ini hanya menanam satu atau dua kali, bisa ditingkatkan menjadi dua hingga tiga kali. Selain itu, produktivitas pun terus ditingkatkan, dari misalnya lima ton menjadi 6-8 ton per ha.

Produktivitas padi yang masih terjaga tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah untuk tidak mengimpor beras medium. Seperti yang telah disampaikan Menteri Perdagangan Enggartiasto mengatakan pemerintah tidak akan memberikan rekomendasi impor untuk jenis beras yang bisa diproduksi di dalam negeri, seperti IR 64.

Impor hanya diperbolehkan untuk beras yang diperuntukkan bagi kepentingan kesehatan serta horeka (hotel, restoran, dan cafe). Stok beras pemerintah yang dikelola Bulog dinilai masih mencukupi untuk menyuplai pasar.

"Beras medium operasi pasar Bulog dijual di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Pedagang kecil masih diberi keuntungan yang wajar untuk menjual beras dari Bulog. Kalau tidak mau menjual, menyimpan, dan mengoplosnya, mereka akan kami tindak," ujar Enggar.

Keputusan pemerintah untuk tidak mengeluarkan rekomendasi impor beras medium turut didukung fakta di lapangan, di antaranya ketersediaan beras di pasar konsumsi.

Menurut Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi, persediaan beras di Pasar Induk beras Cipinang (PIBC) pada Senin 8 Januari, masih berada di level aman, yaitu sebanyak 32 ribu ton. "Stok aman kira-kira ada di level 25 ribu-30 ribu ton. Menurut perintah menteri dan gubernur, kami harus menjaga stok beras tetap aman," kata Arief.

Paradigma baru juga tidak hanya diberlakukan pada komoditas beras, tapi juga komoditas-komoditas strategis lainnya. Cabai misalnya, Kementan melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura memastikan stok cabai secara nasional aman di awal 2018, yaitu di Januari sampai Maret.

Berdasar data ketersediaan berdasarkan pantauan lapangan pada Desember, cabai besar di Januari sekitar 102.153 ton, Februari 101.840 ton, dan Maret 101.855 ton. Sementara kebutuhan secara nasional di Januari hanya 93.331 ton, Februari 93.311 ton, dan Maret 93.645 ton.

Sedangkan cabai rawit, ketersediaan di Januari sekitar 77.847 ton, Februari 78.090 ton, dan Maret 78.564 ton. Kebutuhan Januari hanya 69.843 ton, Februari 69.861 ton, dan Maret 69.945 ton. Berdasarkan data tersebut, stok cabai besar maupun cabai rawit masih aman, bahkan surplus.

Produktivitas aneka cabai tidak mengalami penurunan signifikan meskipun di beberapa daerah mengalami intensitas curah hujan yang cukup tinggi. Tingkat produktivitas yang terjaga dikarenakan penerapan teknologi yang tepat.

Penggunaan sungkup plastik (rain shelter) merupakan salah satu teknologi yang cukup efektif saat musim hujan tiba. Tim Kementan juga bekerjasama dengan champion untuk mengatur pola tanam di wilayahnya masing-masing. Tingkat kepatuhan petani dan pelaku usaha dalam pelaksanaan pengaturan pola tanam yang telah disepakati sangat menentukan stabilisasi harga dan pasokan.

Meskipun tingkat produktivitas cabai terjaga, di beberapa pasar tertentu harga cabai rawit merah naik hingga Rp65 ribu per kg. Padahal harga cabai di petani masih dalam kisaran normal. Per 8 Januari 2018, harga cabai rawit merah di tingkat petani Jawa Barat, seperti Bandung, Garut, Cianjur, Sumedang hanya sekitar Rp28 ribu-Rp32 ribu. Bahkan di Lombok Timur hanya Rp25 ribu dan wilayah Sulawesi seperti Jeneponto dan Enrekang hanya Rp12 ribu-Rp18 ribu.

Disparitas antara harga di tingkat petani dan beberapa pasar konsumsi ditenggarai terjadi karena kondisi hujan yang menyebabkan sistem distribusi cabai terlambat.

"Untuk mengatasinya Kementerian Pertanian sudah bersinergi dengan Bulog, Kementerian BUMN, Kementerian Perdagangan untuk menolong petani, sesuai perintah Presiden RI bahwa pemerintah harus hadir untuk menyelesaikan permasalahan petani," tutur Mentan.


(AHL)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

1 day Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA