Merpati Siap Genjot Anak Usaha untuk Menyelamatkan Keuangan

Suci Sedya Utami    •    Senin, 21 Jan 2019 08:46 WIB
merpati sekarat
Merpati Siap Genjot Anak Usaha untuk Menyelamatkan Keuangan
Ilustrasi Maskapai Merpati Airlines. (FOTO: MI/Palce Alamo)

Jakarta: Maskapai Penerbangan Merpati Nusantara Airlines siap menjalankan tugas yang diinstruksikan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno untuk mengembangkan anak usaha.

Pengembangan anak usaha dimaksudkan agar Merpati tetap bisa menjalankan usaha meski tidak melalui induknya. Sebab Rini pesimistis Merpati Nusantara Airlines bisa kembali mengudara.

"Sepanjang yang ditugaskan akan kami laksanakan sebaik-baiknya," kata Direktur Utama Merpati Nusantara Airlines Asep Ekanugraha pada Medcom.id melalui pesan aplikasi, Senin, 21 Januari 2019.

Asep menjelaskan saat ini kondisi anak usaha Mepati Nusantara Airlines yakni Merpati Maintenance Facility dan Merpati Training Center jauh lebih maju dibandingkan induknya. Nantinya, kata Asep, konsep pengembangan tersebut yaitu dengan mengintegrasikan anak usaha Merpati Nusantara Airlines dengan BUMN lain.

"Pengembangan anak usaha sesuai dengan business-nya termasuk dan tidak terbatas penerapan sinergi antarBUMN," tutur dia.

Saat ini Kementerian BUMN dan internal Merpati Nusantara Ailines masih menyelesaikan beberapa progres restrukturisasi maskapai perintis itu. Jumat lalu, kedua belah pihak pun telah mengadakan pertemuan terkait hal tersebut.

"Ada beberapa progres proses restrukturisasi Merpati yang kami diskusikan," jelas Asep.

Baca: Menteri Rini: Merpati Tidak Mungkin Terbang Lagi

Menteri BUMN Rini Soemarno sebelumnya mengaku sulit bagi Merpati untuk terbang seperti rencana sebelumnya. Sebab setelah putusan pengadilan terkait proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) nyatanya belum ada investor yang menggelontorkan dana untuk menyelamatkan Merpati yang sudah tidak punya cashflow sejak 2008.

"Merpati tidak mungkin terbang lagi. Harapannya bisa mendapatkan investor. Tapi nyatanya sampai sekarang belum ada. Sebagai BUMN, kami bilang akan sulit Merpati bisa beroperasional kembali sebab pasar penerbangan kini sangat kompetitif," ujar Rini.

Sekretaris Kementerian BUMN Imam Apriyanto Putro mengatakan yang paling memungkinkan dilakukan Merpati ialah mengembangkan dua anak usaha mereka.

"Dua perusahaan itu yang dijaga biar karyawan tetap mendapat gaji. Kami akan kerja samakan Merpati Maintenance Facility dan Merpati Training Center bermitra dengan maskapai lainnya," jelas Imam.

Gagasan yang dilontarkan Kementerian BUMN ini cukup realistis. Pesatnya pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia membuka peluang besar pada industri perawatan dan perbaikan pesawat atau maintenance, repair, and overhaul (MRO). Kementerian Perindustrian menghitung potensi bisnis industri MRO di Indonesia dalam empat tahun ke depan diperkirakan mencapai USD2 miliar, setara Rp26,4 triliun.

 


(AHL)