Bos Lippo: Revolusi Industri 4.0 Bukan Musuh

Annisa ayu artanti    •    Kamis, 12 Apr 2018 17:11 WIB
revolusi mental
Bos Lippo: Revolusi Industri 4.0 Bukan Musuh
Wakil Ketua Lippo Group James Riady (Medcom/Husen Miftahudin).

Jakarta: CEO Lippo Grup James Riady menilai revolusi industri 4.0 adalah kawan dan bukan musuh yang perlu ditakuti banyak pihak.

Ia mengatakan tidak ada perusahaan yang tidak terkena dampak dari revolusi ini. Seharusnya para pengusaha menyambut baik kedatangan revolusi industri 4.0 dengan membuka kesempatan segala sektor untuk lebih berinovasi.

"Biar lah perusahaan di Indonesia menyadari hal ini dan merangkul transformasi ini sebagai teman yang bisa memajukan bangsa kita memajukan perusahaan dari pada menganggap ini sebagai suatu musuh yang ditolak," kata James ditemui di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis, 12 April 2018.

Pemilik mega proyek Meikarta ini juga menyampaikan, kedatangan revolusi industri 4.0 membuka pandangan baru bahwa saat ini semuanya harus dilakukan secara digital. Tidak hanya bisnis tetapi menejemen perusahaan juga harus bertransformasi secara digital.

Seperti sektor bisnis terbesar Lippo Group yaitu properti juga sudah melakukan pembenahan untuk menuju era transformasi digital. Dengan begitu bukan hanya perusahaan yang diuntungkan tetapi juga membuat negara lebih maju dan berkembang.

"Transformasi digital itu akan berdampak luas dan dalam sekali. Tidak ada satu industri pun yang terkecuali properti pun hal yang sama," ucap James.

Seperti diketahui, Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartanto meminta masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan revolusi industri 4.0 karena justru memberi kesempatan untuk Indonesia berinovasi.

"Jadi dengan revolusi industri keempat ini, industri kembali menjadi mainstream pembangunan," kata Airlangga ditemui di Kantor Menko Maritim beberapa waktu lalu.

Revolusi industri 4.0 yang fokus pada pengembangan ekonomi digital dinilai menguntungkan bagi Indonesia. Pasalnya, kunci utama pengembangan ekonomi digital adalah pasar dan bakat.

"Dua-duanya Indonesia punya. Kita punya universitas di ASEAN terbanyak. Kebetulan sumber daya manusia kita juga masuk era emas karena banyak generasi muda. Peluang ini yang harus kita dorong," jelas Airlangga.

Airlangga menambahkan revolusi industri 4.0 seharusnya juga lebih mudah dihadapi Indonesia yang telah menghadapi revolusi industri 3.0 di mana otomatisasi dan robotik telah banyak dilakukan.

Ketua Umum Partai Golkar itu menuturkan revolusi industri 4.0 yang berbasis data dan kecerdasan artifisial tidak akan mengurangi lapangan kerja bagi masyarakat. Menurut dia, saat ini otomatisasi telah terjadi di sejumlah industri seperti tekstil, otomotif hingga petrokimia guna mendorong efisiensi pekerjaan.


(SAW)


Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

3 days Ago

Kepailitan Sariwangi AEA dan anak usahanya yaitu PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (…

BERITA LAINNYA