Kebutuhan Pembangunan Meningkat, Pemerintah Harus Tarik Uang WNI di Singapura

Suci Sedya Utami    •    Selasa, 20 Sep 2016 20:39 WIB
tax amnesty
Kebutuhan Pembangunan Meningkat, Pemerintah Harus Tarik Uang WNI di Singapura
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Gedung MK, Selasa (20/9/2016). MTVN/Suci Sedya Utami.

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan salah satu tujuan tax amnesty adalah untuk merepatriasi dana milik Warga Negara Indonesia (WNI), yang selama ini ada di luar negeri, agar kembali ke tanah air. Hal tersebut disampaikan Ani, sapaan akrab Sri Mulyani, dalam sidang perdana terkait gugatan Undang-Undang pengampunan pajak atau tax amnesty di Mahkamah Konstitusi, Selasa, 20 September 2016. 

Dia mengatakan dana tersebut sangat dibutuhkan Indonesia untuk mendukung pembangunan. Indonesia memiliki berbagai agenda pembangunan. Besarnya biaya pembangunan tersebut dihadapkan pada kondisi ekonomi global yang masih melemah sehingga berdampak pada pendapatan negara yang tak mampu diraup secara maksimal.

"Kebutuhan membangun justru meningkat demi mengentaskan permasalahan kemiskinan," kata Ani di ruang sidang, Gedung MK, Jakarta Pusat, Selasa (20/9/2016). 

Dia menyebut, target pendapatan pajak tahun ini sebesar Rp1.355 triliun, naik 28 persen atau sekitar Rp300 triliun dari realisasi tahun lalu Rp1.060 triliun. Namun, target tersebut akan sulit dicapai. 

Di sisi lain, banyak wajib pajak yang belum patuh membayar pajak dan lebih memilih menempatkan hartanya di negara yang disebut tax haven atau surga pajak.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyatakan dari Rp3.250 triliun kekayaan high net worth individual atau orang-orang yang memiliki kekayaan yang sangat tinggi di Indonesia, sebanyak Rp2.600 triliun berada di Singapura. 

Dari jumlah tersebut, Rp650 triliun disimpan dalam bentuk non investable assets atau berupa real estate, sementara Rp1.950 triliun dalam bentuk investable assets seperti deposito, surat berharga serta saham.

"Data mengenai jumlah harta orang-orang di Singapura yang Rp2.600 triliun belum termasuk data dana dan harta yang disimpan di Hong Kong, Makau, Labuan, Panama Papers, Luxemburg dan sebagainya," tutur dia.

Lebih jauh dijelaskan Ani, jika mengacu dari laporan Bank Indonesia terkait posisi investasi internasional pada triwulan satu 2016, menyebutkan posisi aset finansial luar negeri (AFLN) Indonesia sebesar USD214,6 miliar atau sekitar Rp2.800 triliun dan belum termasuk aset gelap WNI yang dimiliki oleh special purpose vehicle (SPV) di luar negeri yang menjadi bagian dari kegiatan bawah tanah masyarakat Indonesia.



(SAW)

Pascareshuffle Mau Apa? (4)

Pascareshuffle Mau Apa? (4)

1 month Ago

Republik Sentilan Sentilun malam ini bertema "Pascareshuffle Mau Apa?" menghadirkan A…

BERITA LAINNYA