Pilot Program Santripreneur dan Petani Muda Diresmikan

Eko Nordiansyah    •    Rabu, 26 Dec 2018 13:44 WIB
pertaniansantriPendidikan Vokasi
Pilot Program Santripreneur dan Petani Muda Diresmikan
Menko Perekonomian Darmin Nasution saat meresmikan Program Kemitraan Ekonomi Umat berkolaborasi dengan pondok pesantren dan organisasi berbasis keagamaan. (Foto: Kemenko Perekonomian)

Bogor: Pemerintah mengembangkan Program Kemitraan Ekonomi Umat berkolaborasi dengan pondok pesantren dan organisasi berbasis keagamaan. Program Santripreneur dan Petani Muda dirancang untuk mencetak wirausaha baru pertanian dalam rangka regenerasi petani serta mengembangkan potensi lahan non-produktif termasuk di pondok pesantren.

"Program ini merupakan implementasi dan tindak lanjut dari Kebijakan Pemerataan Ekonomi dan Kongres Ekonomi Umat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI)," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, di Pondok Pesantren Pemberdayaan Umat, Desa Cibuntu, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Rabu, 26 Desember 2018.

Darmin menjelaskan Program Kemitraan Ekonomi Umat memfasilitasi berbagai inisiatif kemitraan antara umat, yaitu kelompok masyarakat berbasis pondok pesantren, masyarakat sekitar pondok pesantren, dan UMKM dengan kelompok usaha besar. Sudah ada 16 kelompok usaha besar yang bermitra dengan pondok pesantren dan kelompok masyarakat berbasis keagamaan.

Hingga saat ini, pemerintah telah berkolaborasi dengan beberapa organisasi masyarakat (ormas) besar Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU, Muhammadiyah, Persatuan Islam (PERSIS), Persatuan Ummat Islam (PUI), dan Al-Ittihadiyah. Kedepannya pemerintah akan berkolaborasi dengan ormas-ormas lainnya.

"Sasaran program ini adalah santri tingkat akhir, alumni pondok pesantren dan masyarakat sekitar pondok pesantren, pemuda yang sedang atau baru lulus sekolah atau kuliah, serta tunakarya yang berminat pada usaha di bidang pertanian," jelas dia.

Adapun cakupannya adalah kegiatan pelatihan serta pengembangan usaha pertanian usai pelatihan. Pelatihan dan pengembangan usaha difokuskan pada pengembangan komoditas pertanian bernilai ekonomi tinggi khususnya hortikultura yang diintegrasikan dengan usaha peternakan dan perikanan.

Institut Pertanian Bogor (IPB) memberikan fasilitas dalam aspek penyediaan lahan, akses pembiayaan, teknologi, pasar, dan pendampingan. Untuk itu, diperlukan kolaborasi antara IPB dengan berbagai pihak terkait untuk menjalankan program ini.

Dirinya menambahkan ada satu hal penting yang perlu menjadi perhatian untuk mengatasi ketimpangan. Setelah menyasar pembangunan infrastruktur dan pengembangan SDM melalui pendidikan vokasi, Indonesia juga perlu membangun logistik yang efisien.

"Kemudian, kita juga sudah waktunya mendorong terciptanya transformasi ekonomi desa dari ekonomi yang subsisten ke komersial. Dengan begitu, kita bisa menjadi bangsa dan negara yang makin tahan dengan gejolak ekonomi global," pungkasnya.


(ABD)