Industri Pulp & Kertas Genjot Pertumbuhan Ekonomi Jika Harga Gas Murah

Husen Miftahudin    •    Rabu, 19 Oct 2016 20:04 WIB
gas
Industri Pulp & Kertas Genjot Pertumbuhan Ekonomi Jika Harga Gas Murah
Hutan Kertas (ANT FB Anggoro).

Metrotvnews.com, Jakarta: Industri pulp dan kertas di dalam negeri dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang cukup signifikan. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri tersebut mendapatkan diskon harga gas sebesar USD6 per MMBTU.

"Kami telah mengusulkan agar industri pulp dan kertas masuk dalam kelompok bidang industri pengguna gas harga tertentu pada revisi Perpres Nomor 40 tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi," ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam Kongres Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) 2016 seperti dalam keterangan tertulis, Jakarta, Rabu (19/10/2016).

Selama beberapa tahun terakhir, pertumbuhan industri pulp dan kertas nasional mengalami pasang surut sehubungan dengan tantangan yang dihadapi baik dari dalam maupun luar negeri. Pertumbuhan sektor ini turun sekitar 2,89 persen pada 2012 dan 0,53 persen pada 2013.

Sementara pada 2014, industri kertas mengalami pertumbuhan positif sebesar 3,58 persen. Kemudian, pada 2015 kembali turun sekitar 0,11 persen. Namun, pada semester I-2016 kembali tumbuh positif sebesar 1,94 persen.

"Sebagai salah satu industri prioritas yang telah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional, kami terus mendorong industri pulp dan kertas nasional dapat tumbuh lebih baik lagi ke depannya," ungkap dia.

Untuk itu, pemerintah dan pelaku usaha yang tergabung dalam APKI, perlu bersinergi lebih kuat dalam rangka mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi industri pulp dan kertas nasional saat ini. Terlebih industri ini memiliki peranan cukup penting dalam perekonomian nasional.

Ketua APKI periode 2011-2016 Misbahul Huda mengatakan, pengembangan industri pulp dan kertas memiliki peluang yang cukup besar mengingat ketersediaan bahan baku yang masih banyak dari hutan tanaman industri dan hutan rakyat serta bahan baku non-kayu seperti tandan kosong kelapa sawit, kenaf, dan abaca.

Sayangnya, jumlah anggota APKI terus menurun sepanjang 2011-2016 mengingat tingginya biaya produksi yang salah satunya disebabkan oleh mahalnya harga gas sebagai bahan baku. Di sisi lain, harga jual kertas cenderung stagnan, ditambah adanya tekanan dari produk impor yang jumlahnya terus meningkat.

Namun demikian, kata Huda, sebagai asosiasi APKI menjadi mampu menjadi mitra‎ dialog bagi pemerintah seperti dalam kebijakan penurunan harga gas, SNI kemasan pangan, SVLK, kebijakan ekspor impor, kebijakan impor kertas daur ulang dan beberapa kebijakan lain. 

"Dengan keunggulan komparatif dari segi ketersediaan bahan baku dan iklim tropis, kami yakin industri pulp dan kertas dapat tumbuh positif dengan dukungan dari para stakeholder," tegas Misbahul.

Seperti diketahui, dalam Perpres 40/2016, pemerintah menetapkan tujuh industri yang mendapat diskon harga gas sebesar USD6 per MMBTU. Industri tersebut adalah industri baja, industri keramik, industri kaca, industri petrokimia, industri pupuk, industri oleochemical, dan industri sarung tangan karet.

Kemenperin mengusulkan penambahan industri yang dapat potongan harga gas, yakni industri pulp dan kertas, industri makanan dan minuman, serta industri tekstil dan alas kaki. Sementara Kementerian BUMN mengusulkan industri farmasi yang membutuhkan diskon harga gas tersebut. Sehingga ada empat tambahan sektor yang diminta dapat harga gas murah.





(SAW)