Berdaya dengan Kopi Merapi

Ahmad Mustaqim    •    Sabtu, 18 Mar 2017 14:41 WIB
kopi
Berdaya dengan Kopi Merapi
Sumijo menunjukkan produk Kopi Merapi. (Foto: Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim)

Metrotvnews.com, Yogyakarta: Di balik kemegahan, keindahan, dan kewaspadaan terhadap Gunung Merapi, di sana terdapat hasil perkebunan kopi yang patut diberdayakan. Oleh masyarakat, hasil perkebunan itu disebut dengan Kopi Merapi. Para petani kopi harus menghadapi pasang surut saat Gunung Merapi terjadi erupsi.

Sumijo, 40 tahun, menjadi salah seorang yang berhasil mengangkat keberadaan Kopi Merapi. Warga Dukuh Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman ini memiliki kelompok dalam mengelola kopi setempat. Kelompok tersebut diberi nama Koperasi Kebun Makmur.

Menurut dia, keberadaan kopi di lereng Gunung Merapi telah ada sejak zaman penjajahan kolonial. Kemudian, pertanian kopi itu dikelola turun temurun hingga kini. "Petani (kopi) di sini mengalami pasang surut, kan lokasinya berada di lereng gunung api yang aktif," kata Sumijo saat ditemui tengah pekan ini.

Tiap kali Gunung Merapi erupsi, lahan pertanian, termasuk kopi, hampir keseluruhan rusak. Batang tanaman kopi mengalami kerusakan karena diterjang material erupsi. Saat Gunung Merapi erupsi pada 2010, jatuhan material banyak mengarah ke tenggara dan selatan.

Sumijo menerangkan, ada dua jenis kopi yang ditanam di lereng Gunung Merapi, yakni robusta dan arabika. Tanaman kopi robusta mulai ditanam sejak 1984. Kemudian, kopi jenis arabika mulai ditanam pada 1992. Program pembudidayaan kopi tersebut merupakan program dari pemerintah.




Saat awal masa penanaman itu, telah terbentuk sejumlah kelompok tani. Namun, kelompok-kelompok tersebut tak sampai mampu mengelola hasil pertanian kopi. Kebanyakan, hasil pertanian kopi dijual mentah atau kopi basah. "Untuk bisa panen kopi itu kan butuh waktu tiga sampai empat tahun. Tiap masa panen saya lihat harganya murah," ujarnya.

Melihat hal itu, Sumijo mulai berpikir agar petani tetap mendapat keuntungan dari penjualan kopi. Sebab, keuntungan malah didapat oleh pebisnis kopi, bukan petaninya.

Sumijo bersama petani kopi lain kemudian membentuk Kelompok Usaha Bersama bernama "Kebun Makmur" pada 2002. Dua tahun berselang, kelompok tersebut mulai mencoba pengolahan kopi setelah masa panen.

Melalui kelompok itu, sejumlah produk kopi dihasilkan. Mulai biji kopi kering, kopi serbuk, hingga produk kopi yang sudah dikemas kiloan maupun sachetan. Produk-produk itu merupakan hasil olahan dari tanaman kopi jenis robusta dan arabika. "Tapi ada juga biji kopi yang untuk kecantikan, khususnya kopi Merapi," kata dia.

Pada 2006, Kopi Merapi mendapat sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI). Kemudian, Kopi Merapi mampu menggondol SNI Award pada 2007 dan mendapat penghargaan dari presiden setahun setelahnya. Setelah mendapat penghargaan presiden itu, Kelompok Usaha Bersama Kebun Makmur berganti Koperasi Kebun Makmur.

Turun Akibat Erupsi

Sumijo memutuskan fokus mengolah dan berbisnis kopi pada 2010 dengan keluar dari pekerjaannya di Merapi Golf. Namun, di tahun itu pula erupsi besar Gunung Merapi terjadi. Tak hanya lahan pertanian kopi rusak, bahkan rumah Sumijo pun mengalami hal serupa.

Sumijo memperkirakan, kerusakan pertanian kopi akibat erupsi 2010 mencapai 90 persen dari 850 hektar lahan miliki seluruh warga. Tak hanya itu, aset bangunan koperasi yang berisi tiga ton kopi juga hancur.

Setelah erupsi selesai, tak semua petani melanjutkan budi daya kopi. Sebagian dari mereka memilih banting stir ke penambangan pasir material erupsi Gunung Merapi. "Hasilnya menambang pasir memang cukup besar waktu itu habis erupsi," ujarnya.

Meski begitu, Sumijo tetap bertahan dengan kopi. Perlahan, ia bersama petani lain kembali mulai membudidaya kopi. Usaha itu kian waktu mendapatkan titik cerah. Sampai saat ini, lahan petani kopi di lereng Gunung Merapi sudah di atas 300 hektare di kawasan Kecamatan Cangkringan, Turi, dan Pakem. Adapun jumlah petani kopi sebanyak 800 orang.




Terus berupaya bangkit, mereka membudi daya kopi, dengan dominasi robusta, secara organik. Terbukti, dalam dua tahun mereka menghasilkan dua ton biji kopi kering.

Pengakuan Sumijo, harga jual kopi dari petani di koperasi terbilang tinggi. Kini, biji kopi basah jenis robusta dari petani dihargai Rp5.000 per kilogram, untuk jenis arabika sebesar Rp6.000 per kilogram. Sementara itu, untuk harga kopi kering jenis robusta mencapai Rp25 ribu per kilogram dan jenis arabika bisa Rp35 ribu per kilogram. "Ada peningkatan tiga kali lipat," ujarnya.

Sempat ada yang berpendapat harga itu terlalu mahal jika langsung dari petani. Hal itu Sumijo dengar saat memperoleh kunjungan dari peneliti kopi dan kakao dari Jember, Jawa Timur. Meski demikian, ia menilai tidak menjadi masalah karena adanya koperasi demi menyejahterakan petani.

Pengolahan Kopi Merapi kini berhasil bangkit. Konsumen mereka tak hanya dari lokal Yogyakarta, namun juga berasal dari Bali, Bogor, hingga Jakarta. "Semoga produksi hasil pertanian terus meningkat. Cita-cita saya, seluruh petani kopi lereng Gunung Merapi, termasuk dari wilayah Jawa Tengah, bisa bersatu di Koperasi Kebun Makmur," harapnya.


(AHL)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

12 hours Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA