Jurus Menteri Amran Halau Impor Ilegal di Perbatasan

M Rodhi Aulia    •    Jumat, 14 Oct 2016 23:58 WIB
kementerian pertanian
Jurus Menteri Amran Halau Impor Ilegal di Perbatasan
Menteri Amran di sela-sela Panen Pedet (anak sapi), di Lapangan Sepak Bola Desa Hulo, Kecamatan Kahu, Bone, Jumat (14/10/2016). (Foto: Metrotvnews.com/Aulia)

Metrotvnews.com, Bone: Jalur tikus di daerah perbatasan sering dimanfaatkan sebagai jalur impor ilegal dari negara tetangga, termasuk kebutuhan pangan. Menteri Pertanian Amran Sulaiman memiliki jurus melawan impor tersebut.

"Tanam (apa yang masuk ke Indonesia) di perbatasan. Apa yang selalu masuk di sini? Bawang pak. Tanam bawang. Apalagi? Beras pak. Buka beras di sini. Apalagi? Cabai. Tanam cabai di perbatasan," kata Amran di sela-sela Panen Pedet (anak sapi), di Lapangan Sepak Bola Desa Hulo, Kecamatan Kahu, Bone, Jumat (14/10/2016).

Amran mengaku mengundang sebanyak 44 bupati yang berada di daerah perbatasan. Seperti halnya perbatasan dengan Malaysia di Kalimantan, NTT dengan Timor Leste, Papua dengan Papua Nugini, Kepulauan Riau dengan Singapura, Maluku dan NTB dengan Filipina.

"Harus dilawan dengan produksi. Kalau dengan pengamanan, AU, AL, AD, Kepolisian, setengah mati. Ini negara kita, negara besar. Bagaimana saingan dengan negara lain (ekspor), dia belasan jam baru tiba. Kita hitungan detik sampai," ujar Amran mengistilahkan.

Amran mengaku membantu daerah perbatasan tersebut untuk membangun dan menghasilkan kebutuhan pangannya. Sehingga, di samping tidak perlu lagi menerima impor, daerah itu bisa mengekspor.

"Kami sudah cek, ratusan hektare sawah sudah terbangun di (daerah perbatasan) Kepulauan Riau. Aku bantu siapkan bantuan dari pusat," tandas dia.


(MEL)