Ekonomi Kepri Menduduki Posisi Lima di Wilayah Sumatera

Anwar Sadat Guna    •    Rabu, 15 Nov 2017 17:59 WIB
riauekonomi indonesia
Ekonomi Kepri Menduduki Posisi Lima di Wilayah Sumatera
Illustrasi (ANT/Irwansyah Putra).

Metrotvnews.com, Batam: Perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) tumbuh 2,41 persen di triwulan III-2017. Pertumbuhan ekonomi tersebut hanya tumbuh 1,9 persen dibandingkan pertumbuhan di triwulan II sebesar 1,04 persen.

Angka pertumbuhan ekonomi ini masih menempatkan Kepri di urutan lima untuk pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera. Urutan pertama ditempati Sumatera Utara (Sumut), Riau, Sumatera Selatan (Sumsel), Lampung, dan Kepri.

Pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera terutama ditopang oleh daerah-daerah penghasil kelapa sawit atau CPO. Secara keseluruhan, ekonomi Sumatera tumbuh dari 4,09 persen di triwulan II naik menjadi 4,43 persen di triwulan III-2017.

"Pertumbuhan ekonomi Sumut tumbuh dari 5,09 persen di triwulan II naik menjadi 5,21 persen di triwulan III-2017. Khusus untuk Kepri, ekonomi kita tumbuh paling rendah di level Sumatera, saat ini berada di level 2,41 persen," ujar Kepala Bank Indonesia Kantor Wilayah Provinsi Kepri Gusti Raizal Eka Putra saat pemaparan Perkembangan Perekonomian Kepri di Grand i Hotel, Nagoya, Batam, Rabu, 15 November 2017.

Gusti mengatakan, peningkatan pertumbuhan ekonomi di Kepri didorong oleh beberapa faktor. Di antaranya, kata dia, terjadi peningkatan di sektor konsumsi rumah tangga. Dari 6,48 persen di triwulan II naik menjadi 7,2 persen di triwulan III-2017.

Sementara dari sektor investasi khususnya industri, kata Gusti, juga mengalami pertumbuhan. Sedangkan 0,44 persen di triwulan II naik menjadi 2,88 persen di triwulan III-2017.

"Industri tumbuh terutama ditopang oleh industri elektronik dan CPO. Itu tercermin dari pertumbuhan ekspor barang-barang elektronik dan CPO," jelasnya.

Terkait konsumsi rumah tangga, tambah Gusti, penguatan di sektor ini seiring menguatnya sektor ekonomi utama di Kepri yaitu industri pengolahan.

"Kita optimistis, sektor ini masih akan mengalami pertumbuhan di triwulan berikutnya," tambahnya.

Gusti menuturkan, untuk segi inflasi di Kepri mengalami peningkatan di triwulan III-2017. Bahkan untuk rata-rata year to year (yoy) berada di level 5,17 persen. Ada beberapa faktor yang memicu angka inflasi mengalami peningkatan.

"Andil terbesar inflasi bersumber dari kenaikan harga gula pasir. Harga komoditi ini cenderung di atas harga eceran tertinggi (HET). Inflasi juga dipicu oleh terbatasnya pasokan cabai merah dan kenaikan tarif listrik sebesar 15 persen," ungkapnya.

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi tersebut, kinerja perbankan juga mengalami peningkatan. Begitupun dengan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Syariah.

Kinerja BPR tumbuh dari 10,21 persen di triwulan II naik menjadi 14,29 persen di triwulan III-2017. Adapun kinerja Bank Syariah, juga tumbuh dari 27,68 persen di triwulan II naik menjadi 29,49 persen di triwulan III-2017.


(SAW)