Lihat Daya Beli, Harga Rokok di Indonesia Sudah Mahal

Husen Miftahudin    •    Rabu, 11 Apr 2018 20:56 WIB
rokokbea cukai
<i>Lihat Daya Beli, Harga Rokok di Indonesia Sudah Mahal</i>
Ilustrasi. (Foto: Antara/Andreas).

Jakarta: Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan menilai harga rokok di Indonesia sebenarnya sudah mahal dibandingkan negara lain.

Kepala Subdirektorat Komunikasi dan Publikasi Ditjen Bea Cukai, Deni Surjantoro menyatakan harga rokok dalam lima tahun terakhir cenderung kurang terjangkau.

"Kalau secara nominal absolut memang murah. Dengan mempertimbangkan daya beli, harga rokok di Indonesia sudah mahal," kata Deni di Jakarta, Rabu, 11 April 2018.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menambahkan harga rokok di Indonesia lebih mahal ketimbang Jepang, Korea, Tiongkok, Hong Kong, Australia, Singapura, Malaysia, Myanmar, dan Vietnam.

Hal itu berdasarkan indeks keterjangkauan yang diukur melalui rasio Price Relative to Income (PRI). PRI merupakan rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga. Menurut dia, bila memperhitungkan faktor daya beli, harga rokok di Indonesia tidak lah murah.

"Kalau dibandingkan dengan harga dan dihitung daya beli, harga rokok Indonesia sudah mahal dibandingkan negara-negara lainnya," kata Yustinus.

Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi juga menyatakan harga jual sebatang rokok di Indonesia merupakan yang tertinggi bila dibandingkan dengan pendapatan per kapita per hari masyarakat.

"Secara nominal harga rokok di Indonesia memang relatif lebih rendah daripada Singapura atau negara maju lain. Tapi kalau kita bandingkan secara relatif terhadap pendapatan per kapita per hari, sebenarnya harga jual satu batang rokok kita termasuk yang tertinggi," ucapnya.

Harga jual rokok di Indonesia sebesar 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) per kapita per hari. Angka ini terbilang tinggi dibandingkan dengan negara maju, seperti Jepang. Harga jual rokok di Jepang berkisar 0,2 persen dari PDB per kapita per hari.

"Memang nominalnya lebih murah dibandingkan negara-negara maju. Tapi harus kita ingat semua, itu kan dikendalikan juga dari daya beli," ungkap Heru.


(AHL)