Pengusaha Minta Daftar Barang yang jadi Alat Perang Dagang AS-Tiongkok

Desi Angriani    •    Selasa, 10 Apr 2018 11:16 WIB
as-tiongkokPerang dagang
Pengusaha Minta Daftar Barang yang jadi Alat Perang Dagang AS-Tiongkok
Ketua Apindo bidang Hubungan Internasional dan Investasi Shinta Widjaja Kamdani. (FOTO: Medcom.id/Husen)

Jakarta: Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bidang Hubungan Internasional dan Investasi Shinta Widjaja Kamdani meminta pemerintah melakukan identifikasi terhadap jenis komoditi yang menjadi alat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Hal itu menyusul keinginan pemerintah untuk memanfaatkan peluang trade war di antara kedua negara dengan ekonomi terkuat di dunia tersebut.

"Apa saja produk Indonesia yang berkompetisi dengan produk Tiongkok di pasar AS dan sebaliknya produk Indonesia yang berkompetisi dengan produk AS di Tiongkok," ujar Shinta kepada Medcom.id di Jakarta, Senin, 9 April 2018.

Selain melakukan identifikasi, pemerintah dianggap perlu mengukur besaran market gap apabila komoditi yang berkompetisi tersebut hilang di pasar AS-Tiongkok. Termasuk besaran surplus komoditi yang perlu dialihkan (trade diversion) oleh Tiongkok maupun AS.

"Supaya ketika trade war terjadi kita bisa langsung mengukur dampaknya terhadap Indonesia dan menentukan langkah yang cepat dan tepat untuk mencegah damage yang terlalu besar terhadap perekonomian Indonesia," tuturnya.

Menurutnya, perang dagang dapat dimanfaatkan dengan mengambil substitusi dari jenis produk yang bisa dieskpor Tiongkok ke AS seperti makanan dan minuman, alas kaki dan tekstil. Tetapi ada juga sektor yangg rentan terdampak negatif seperti besi-baja termasuk industri pembuatan komponen pesawat, barang elektronik, atau otomotif.

"Kemungkinan besar akan diuntungkan dengan trade war ini sebagai contoh sektor manufaktur yang diekspor ke AS dan bersaing dengan Tiongkok seperti textile-apparel-footwear," sambung Shinta.

Meskipun dampak dari perang dagang masih terlihat abu-abu, kata Shinta, langkah identifikasi produk subsitusi merupakan bentuk antisipasi bila genderang perang dagang AS-Tiongkok resmi ditabuh.

"Ketika trade war terjadi kita bisa langsung mengukur dampaknya terhadap Indonesia dan menentukan langkah yang cepat dan tepat untuk mencegah damage yang terlalu besar terhadap perekonomian Indonesia," pungkas dia.

Untuk diketahui, Negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping ini memberlakukan kenaikan tarif impor hingga 25 persen atau sekitar USD60 miliar atas 128 produk Amerika.

Tiongkok bahkan menghentikan impor pesawat boeing, buah-buahan, dan kedelai dari AS. Tindakan ini dilakukan sebagai aksi balasan terhadap pengenaan 25 persen tarif impor baja dan 10 persen tarif impor aluminium yang dilakukan oleh AS pada produk Tiongkok.

Negeri Paman Sam kembali membalas dengan memberlakukan tarif tambahan sebesar 25 persen terhadap 1.300 produk asal Tiongkok meliputi produk industri kedirgantaraan, teknologi informasi, dan komunikasi, robotika, serta permesinan.

 


(AHL)