Supaya Bisa Buka Usaha Sepulang ke Indonesia

   •    Selasa, 10 Jul 2018 11:38 WIB
migrandunia usaha
Supaya Bisa Buka Usaha Sepulang ke Indonesia
Pekerja migran asal Indonesia mengikuti kursus di Taiwan. (FOTO: dok Metro TV)

"KALAU saya balik ke Indonesia, saya mau buka usaha di Indramayu. Saya, kan, Enggak selamanya kerja di sini," kata Uni Tarsuni, pekerja migran di Taiwan, Minggu, 8 Juli 2018. Hari itu Uni bersama dengan lebih dari 20 pekerja migran asal Indonesia mengikuti kursus sehari membuat minuman bergelembung atau bubble drink yang sedang populer di Taiwan, juga Indonesia. Umi berasal dari Indramayu, Jawa Barat, dan sudah bekerja hampir tiga tahun di Taipei, Taiwan, sebagai perawat orang jompo.

Herliza, rekan sekursus Uni, baru saja menyelesaikan satu jenis bubble drink. Dia dengan bangga memperlihatkan minuman itu. "Saya mau buka usaha bubble drink kalau pulang ke Indonesia," kata perempuan asal Palembang, Sumatera Selatan, itu. Kursus atau pelatihan itu berlangsung di ruang praktik satu private vocational high school atau sekolah menengah kejuruan swasta di Taipei, Taiwan. Karena Minggu, sejumlah ruang di sekolah tersebut bisa dipakai untuk kursus. Di ruang lain di SMK tersebut, Sri Purwati dan Mundirin sedang berlatih menggunting rambut. "Saya mau buka salon di Pacitan," kata Sri. "Saya kepengin buka barber shop," timpal Mundirin.

Sri yang berasal dari Pacitan sudah hampir enam tahun bekerja sebagai perawat orang jompo. Ia hari itu bahkan membawa serta majikan laki-lakinya yang berkursi roda ke ruang kelas karena di rumah majikannya semua penghuni sedang ke luar. Sementara itu, Mundirin yang berasal dari Mojokerto, Jawa Timur, itu bekerja di pabrik. Saat ini tercatat sekitar 270 ribu pekerja migran asal Indonesia yang bekerja di Taiwan, seperti Sri dan Mundirin.

Di kelas lain lagi, belasan pekerja Indonesia sedang mengikuti kursus bahasa Mandarin. Mereka sebetulnya sudah bisa berbahasa Mandarin, tetapi masih sering keliru dalam pengucapan, apalagi penulisan. Kursus itu sebetulnya membuat mereka lebih mahir berbahasa Mandarin.

Global Workers' Organization (GWO) ialah lembaga swadaya masyarakat yang mengorganisasi kursus atau pelatihan tersebut. Kegiatan ini mereka organisasikan sejak tahun lalu. Tahun lalu WGO menyelenggarakan antara kain kursus e-commerce dan membuat kue. Kursus itu gratis. Namun, untuk beberapa jenis kursus, seperti membuat bubble drink atau potong rambut, peserta mesti menyediakan bahan dan perlengkapan. Itu dilakukan karena anggaran GWO terbatas. Organisasi ini mendapat anggaran dari negara donor dan sedikit bantuan pemerintah Indonesia. Kantor Dagang Indonesia di Taiwan juga mendukung program ini.

Tujuan program itu ialah meningkatkan keterampilan para pekerja migran. Mereka tidak harus membuka usaha sesuai dengan kursus yang mereka ikuti. Yang mengikuti kursus bahasa Mandarin, misalnya, mereka bisa melanjutkan bekerja di Taiwan atau pulang ke Indonesia untuk bekerja di perusahaan Taiwan. "Tujuan atau filosofi program ini mengubah cara berpikir mereka bahwa mereka tak selamanya bekerja di Taiwan dan harus mempersiapkan diri sepulangnya ke Indonesia, termasuk untuk membuka usaha," tutur Karen Hsu, aktivis WGO. (Media Indonesia)

Usman Kansong
Laporan dari Taipei, Taiwan


 


(AHL)


Merpati akan Beroperasi Lagi 2019

Merpati akan Beroperasi Lagi 2019

6 hours Ago

PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) yang sejak 1 Februari 2014 berhenti beroperasi akibat k…

BERITA LAINNYA