LPS Sebut Likuiditas Perbankan Cenderung Mengetat

Suci Sedya Utami    •    Kamis, 07 Jun 2018 07:15 WIB
perbankanlpsbank perkreditan rakyat (bpr)
LPS Sebut Likuiditas Perbankan Cenderung Mengetat
Ilustrasi (MI/ROMMY PUJIANTO)

Jakarta: Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyebut likuiditas industri perbankan di Indonesia memiliki kecenderungan mengetat dalam pergantian situasi yang disebut new normal. Tentu diharapkan industri perbankan terus melakukan sejumlah antisipasi dalam rangka menekan risiko yang bisa datang kapan saja dan di mana saja.

Ketua Dewan Komisioner (DK) LPS Halim Alamsyah menjelaskan hal tersebut bisa dilihat dari adanya arus modal keluar baik di pasar saham maupun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang menyebabkan terjadinya pengurangan likuiditas di sistem perbankan Tanah Air.

"Dengan tejradinya arus dana asing yang keluar dari pasar saham sebesar Rp6,7 triliun dan di SBN sebesar Rp19,5 triliun akan mengurangi ketersediaan likuiditas di perbankan (Indonesia)," kata Halim, di Jakarta, Rabu malam, 6 Juni 2018.

Selain itu, masih kata Halim, pengetatan likuiditas juga tercermin dari rasio pinjaman terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) yang meningkat dari 89,61 persen pada Maret menjadi 89,86 persen. Kenaikan LDR terjadi karena pertumbuhan penyaluran kredit yang lebih cepat daripada pertumbuhan DPK.



Adapun pertumbuhan penyaluran kredit perbankan pada April tercatat sebanyak 8,94 persen atau lebih tinggi dibandingkan dengan Maret yang tumbuh sebanyak 8,54 persen. Sementara pertumbuhan DPK di periode yang sama naik dari 7,66 persen menjadi 8,06 persen.

Kendati demikian, dirinya menilai, hal tersebut hanya bersifat sementara. Halim meyakini dengan langkah-langkah yang dilakukan Bank Indonesia (BI) yakni dengan menaikkan suku bunga acuan dan langkah LPS diharapkan bisa menarik DPK yang selama ini disimpan di bawah 'bantal' untuk kembali ditempatkan di perbankan.

Tidak hanya itu, mantan Deputi Gubernur BI ini juga meyakini dengan pondasi ekonomi Indonesia yang kuat dan memberikan imbal hasil tinggi dari sisi investasi akan mampu menarik para pemodal menempatkan uangnya di Indonesia.

"Di tambah lagi pemerintah semakin aktif dari sisi fiskal di mana ekspansi fiskalnya di semester dua akan lebih tinggi dan kita harap ini akan bisa mengurangi keketatan likuiditas," jelas Halim.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Riset, Surveilans, dan Pemeriksaan Bank LPS Didik Madiyono mengklaim, likuiditas untuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tidak akan terganggu. Menurutnya hal tersebut tercermin dari pertumbuhan kredit yang lebih rendah dibandingkan dengan DPK yakni masing-masing pada Maret sebesar 8,67 persen dan 11,85 persen.

"Di sisi lain LDR BPR dari 2014 sampai Maret 2018 mengalami penurunan dari 79 persen menjdi 75,43 persen. Jadi pengetatan tidak begitu terjadi di sisi industrinya," pungkas Didik.

 


(ABD)