Forum Wakaf Nasional Gagas Pembentukan Asosiasi Nazhir

   •    Kamis, 10 May 2018 22:29 WIB
wakaf
Forum Wakaf Nasional Gagas Pembentukan Asosiasi Nazhir
BWI menyelenggarakan Forum Wakaf Nasional di Aula Prof Abdullah Siddiq, Universitas Ibn Khaldun, Bogor, kemarin. Foto: Istimewa

Bogor: National Waqf Forum atau Forum Wakaf Nasional merekomendasikan pembentukan asosiasi nazhir. Nazhir adalah pihak yang menerima harta benda wakaf untuk dikelola dan dikembangkan sesuai peruntukan.
 
“Asosiasi ini pada prinsipnya dari nazhir, oleh nazhir, dan untuk nazhir. BWI (Badan Wakaf Indonesia) siap memfasilitasinya demi memajukan perwakafan nasional,” kata Ketua Divisi Pembinaan Nazhir, BWI, Hendri Tanjung, dalam keterangan tertulis, Kamis, 10 Mei 2018.
 
BWI menyelenggarakan Forum Wakaf Nasional di Aula Prof Abdullah Siddiq, Universitas Ibn Khaldun, Bogor, kemarin. BWI selaku pembina dan pengawas nazhir bersedia memfasilitasi pembentukan asosiasi ini.
 
Sebanyak 11 nazhir bersedia menjadi formatur untuk melaksanakan pembentukan asosiasi. Mereka adalah Bobby Manulang (Dompet Dhuafa), Radius Usman (Kopsyah BMI), Munashir (KSPPS Al-Muawanah), Zainal Hasikin (Dewan Dakwah), Ihsan (Baitulmal Tazkia), Rudi Mulyono (Yayasan Yatim Mandiri), Yusep Iskandar (Baitul Mal Muamalat), Fahrudin (Daarut Tauhid), UKI AW (Yayasan Darussalam), Agus Suwanto (BMT Best), dan Sukendar (Bazma Pertamina).
 
“Asosiasi ini akan menjadi sarana bagi para nazhir untuk saling menguatkan, meningkatkan kompetensi mengelola harta wakaf, menyuarakan kepentingan nazhir dan wakaf, serta memperkuat posisi nazhir sebagai suatu profesi yang layak diakui dan diapresiasi sebagaimana profesi-profesi lain,” kata Hendri.
 
Nantinya, asosiasi diberi tugas merumuskan standar kompetensi yang jelas dan terukur yang harus dimiliki seorang nazhir. Rumusan standar kompetensi yang disusun asosiasi akan diusulkan BWI kepada Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan Kementerian Tenaga Kerja untuk disahkan dan ditetapkan menjadi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Nazhir.
 
Dengan adanya SKKNI Nazhir, kata Hendri, profesi nazhir menjadi setara dengan profesi lainnya seperti dokter dan advokat. “Jadi, nazhir bukan lagi profesi asal-asalan dan sembarangan, tetapi mempunyai keahlian yang jelas,” katanya.

Baca: Potensi Wakaf Indonesia Capai Ratusan Triliun Rupiah
 
Hendri optimistis, melalui tangan para nazhir yang profesional dan memiliki standar kompetensi yang jelas, wakaf bisa dikelola dan disalurkan secara maksimal kepada masyarakat. “Karena selama ini salah satu penghambat kemajuan wakaf adalah nazhir yang tidak profesional,” kata dia.
 
Selain para nazhir, forum ini juga dihadiri perwakilan Kementerian Agama sebagai mitra BWI dalam pembinaan nazhir, BNI Syariah selaku lembaga keuangan syariah penerima wakaf uang (LKS-PWU), Kementerian Koperasi dan UKM selaku mitra BWI dalam menyeleksi koperasi untuk menjadi nazhir wakaf uang, dan akademisi asal Turki Kamola Bayrom.
 
Forum ini rencananya menjadi agenda tahunan yang bertujuan untuk silaturahmi dan menyerap aspirasi para nazhir.




(UWA)