Mempertanyakan Produksi Padi Meningkat di Musim Kemarau

   •    Kamis, 09 Aug 2018 14:34 WIB
kedaulatan panganpangankemarau dan kekeringan
Mempertanyakan Produksi Padi Meningkat di Musim Kemarau
Ilustrasi (MI/PANCA SYURKANI)

Jakarta: Kementerian Pertanian (Kementan) menilai produktivitas pertanian pada musim kemarau relatif bagus karena serangan hama berkurang. Namun, kondisi itu bertolak belakang dengan pernyataan Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) yang menilai ketersediaan stok pangan dikatakan aman di tengah ancaman kekeringan tidak berdasarkan data akurat.

Secara logika, musim kemarau biasanya memberikan efek terhadap produksi padi, lantaran sawah membutuhkan cukup air. Jadi, wajar jika ada pihak yang mengkritisi Kementan dan mempertanyakan produksi padi di Indonesia disebut meningkat ketika banyak sawah kekeringan.
 
Bahkan, Ketua AB2TI Dwi Andreas menyebut, kekeringan saat ini lebih parah dibandingkan tahun kemarin. Produksi pangan berpotensi merosot hingga 60 persen. Menurut data yang sudah ia kumpulkan di sebagian Jawa Timur terungkap bahwa wilayah yang terdampak kekeringan mencapai sekitar 15-50 persen.

Mengutip data AB2TI, Kamis, 9 Agustus 2018, dampak kekeringan bisa memicu penurunan produksi antara 20-60 persen dibandingkan dengan produksi pada masa normal. Melalui data itu, AB2TI mempertanyakan jika disebutkan produksi mencapai surplus besar dari Januari-Maret. Pasalnya, harga mencerminkan kurangnya produksi dibandingkan dengan tingkat konsumsi.

Adapun Kementan memprediksi produksi beras mengalami surplus sebesar 13,03 juta ton di 2018. Perkiraan surplus tersebut dihitung dari target produksi beras 2018 sebesar 80 juta ton atau 46,5 juta ton setara beras, sementara perkiraan total konsumsi beras nasional hanya 33,47 juta ton.



Target produksi beras sebesar 80 juta ton dianggap angka yang realistis oleh Kementan. Angka tersebut bisa diprediksi dengan melihat data tren produksi beras Badan Pusat Statistik (BPS) dalam 10 terakhir yang terus meningkat. Produksi padi di 2009 mencapai 64,39 juta ton, dan 2010 naik lagi menjadi 66,47 juta ton.

Kemudian sejak 2011 hingga 2017, tren kenaikan produksi beras terus menguat, yakni 65,75 juta ton pada 2011 dan 81,38 juta ton pada 2017. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan produktivitas pertanian pada musim kemarau relatif bagus karena serangan hama berkurang.

"Justru kalau kondisi cuaca seperti ini airnya siap di daerah irigasi. Bahkan, produktivitas relatif bagus karena hama berkurang," kata Amran, beberapa waktu lalu.

Kendati demikian, lanjutnya, hal yang sangat perlu dilakukan pada saat musim kemarau adalah menjaga pasokan air melalui irigasi. Adapun pemerintah juga menyiapkan sejumlah bantuan seperti pembangunan saluran irigasi, pembangunan embung pengairan, hingga distribusi pompa air sebanyak 100 ribu unit di seluruh Indonesia.

Amran menjelaskan untuk komoditas padi ditargetkan menanam 1 juta hektare tiap bulan. Dia menjelaskan Kementan tengah fokus menjaga penanaman padi pada Juli, Agustus, hingga September dengan meningkatkan jumlah luas tanam dari 500 ribu hektare menjadi 1 juta hektare.

Amran berharap dengan luas lahan yang meningkat dapat menghindari paceklik. Selain itu, masih kata Amran, tidak semua wilayah di Indonesia mengalami kekeringan. Adapun dengan perbedaan kondisi cuaca itu, Amran menilai, menjadi keuntungan tersendiri bagi masyarakat Indonesia dalam mengelola persawahan.

"Kami juga fokus kepada kawasan yang ada bendungannya," pungkasnya.

 


(ABD)


Perpres DNI Rampung Pekan Depan

Perpres DNI Rampung Pekan Depan

1 week Ago

Pemerintah mempercepat penyelesaian rancangan per-aturan presiden (Perpres) mengenai Daftar Neg…

BERITA LAINNYA