Pertumbuhan Ekonomi Asia Lebih Baik Ditopang Perbaikan Tiongkok

Eko Nordiansyah    •    Selasa, 26 Sep 2017 14:54 WIB
ekonomi duniaadb
Pertumbuhan Ekonomi Asia Lebih Baik Ditopang Perbaikan Tiongkok
Ilustrasi perekonomian Tiongkok. (FOTO: AFP)

Metrotvnews.com, Jakarta: Asian Development Bank (ADB) memperkirakan jika pertumbuhan ekonomi Tiongkok dapat meningkat jadi 6,7 persen pada 2017 atau naik 0,2 poin dibandingkan prakiraan sebelumnya. Pada 2018, pertumbuhan akan melambat ke 6,4 persen karena mulai berjalannya reformasi untuk memangkas kelebihan kapasitas industri dan mengurangi risiko keuangan.

Kepala Ekonom ADB Yasuyuki Sawada mengatakan, prospek yang lebih baik di Tiongkok mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia yang sedang berkembang pada 2017 dan 2018 melampaui proyeksi sebelumnya. Ini didorong pemulihan menyeluruh perdagangan global, ekspansi yang kuat di berbagai perekonomian industri utama.

"Negara-negara di kawasan ini harus memanfaatkan prospek ekonomi jangka pendek yang menguntungkan untuk melakukan reformasi guna meningkatkan produktivitas, berinvestasi pada infrastruktur, dan mempertahankan manajemen makroekonomi yang baik demi meningkatkan potensi pertumbuhan jangka panjang," ujarnya di Kantor ADB Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa 26 September 2017.

Dalam edisi pembaruan publikasi ekonomi tahunannya Asian Development Outlook (ADO) 2017, ADB memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Asia yang sedang berkembang sebesar 5,9 persen pada 2017, dan 5,8 persen pada 2018. Pertumbuhan di kawasan Asia yang sedang berkembang terangkat berkat pulihnya perdagangan.

Baca: OECD Nilai Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Membaik

Nilai ekspor dari kawasan ini melonjak 11 persen pada lima bulan pertama 2017 dibandingkan dengan periode yang sama tahun Ialu, dan nilai impornya naik 17 persen. Kenaikan ini terjadi setelah nilai ekspor selama dua tahun sebelumnya terus menyusut akibat merosotnya harga komoditas dan lesunya permintaan manufaktur. Di luar RRT, delapan negara berkembang di kawasan ini mengalami kenaikan riil ekspor manufaktur.

Pertumbuhan negara-negara industri maju akan mencapai dua persen pada 2017 dan 2018, meningkat 0,1 poin persentase dari prakiraan April 2017. Ekspansi pertumbuhan Amerika Serikat kini sudah memasuki tahun kesembilan dan konsumen masih mempertahankan perekonomian terbesar dunia ini tetap di jalur yang sama.

Pertumbuhan di Jepang juga secara mengejutkan Iebih baik daripada prakiraan, berkat membaiknya keyakinan konsumen dan sentimen bisnis. Sementara itu, kebijakan fiskal dan moneter yang ekspansif, penurunan ketidakpastian politik, dan kepercayaan pasar yang kuat, semuanya mendorong pemulihan di zona Euro.

Pertumbuhan lndia masih tetap kuat, meskipun demonetisasi dan pelaksanaan rezim pajak barang dan jasa yang baru menurunkan belanja konsumen dan investasi usaha. Gangguan jangka pendek seperti ini diperkirakan akan mereda, sehingga memungkinkan prakarsa tersebut menghasilkan dividen pertumbuhan dalam jangka menengah.

Pertumbuhan PDB lndia diproyeksikan turun ke tujuh persen untuk 2017, turun 0,4 poin persentase dari prakiraan bulan April. Untuk 2018, prakiraan juga diturunkan ke 7,4 persen dari yang sebelumnya 7,6 persen. Asia Tenggara siap tumbuh lebih kuat pada 2017 menjadi 5,1 persen. Pada 2018, meningkat dari prakiraan yang tadinya 4,8 menjadi lima persen. Peningkatan ekspor dari Singapura dan Malaysia akan menjadi ujung tombak pertumbuhan kawasan ini.

Prakiraan pertumbuhan Asia Tengah direvisi naik tahun ini dan tahun depan di tengah stabilnya harga minyak, meningkatnya harapan pertumbuhan Federasi Rusia, dan menguatnya remitansi. Di sisi lain, proyeksi untuk Pasifik pada 2017 belum berubah, tetapi menjadi sedikit lebih rendah untuk 2018 karena harapan pertumbuhan dua perekonomian terbesar di Pasifik yaitu Papua Nugini dan Timor Leste masih tetap sama.

 


(AHL)