Penetapan HET Disebut Demi Peningkatan Daya Saing

Husen Miftahudin    •    Kamis, 18 May 2017 19:03 WIB
bahan pokok
Penetapan HET Disebut Demi Peningkatan Daya Saing
Ilustrasi sembako. (FOTO ANTARA/JOKO)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menetapkan kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beberapa komoditas bahan pokok. Penetapan HET gula, minyak goreng dan daging di ritel modern diuji coba pada 10 April 2017.

Pengamat Ekonomi dari IPB Hermanto Siregar menilai penetapan kebijakan HET pada gula membuat masyarakat lebih mudah dalam mengakses gula. Dari sisi produsen dan pabrik perlu adanya evaluasi mengenai efektifitas dan efisiensi kinerja.

"Kebijakan HET agar industri kita punya daya saing. Kalau negara lain bisa dengan biaya produksi yang lebih murah, kita mestinya berupaya ke arah itu," ujar Hermanto dalam keterangannya kepada Metrotvnews.com, Jakarta, Kamis 18 Mei 2017.

Baca: Kemendag Tetapkan Harga Eceran Tertinggi Kebutuhan Pokok

Dia menilai kebijakan HET mestinya menjadi tantangan bagi industri gula agar bisa melakukan efisensi pabrik. Efisiensi tak hanya dilakukan pada pabrik gula tetapi juga, tetapi juga kepada para usaha tani tebu.

Hermanto menjelaskan, efisiensi secara keseluruhan bagi komoditi gula itu harus dilakukan secara kombinasi antara usaha petani tebu dan pabrik gula. Jadi, produktifitas ataupun rendemen gula bisa ditingkatkan.

"Efisiensi yang meningkat itu, rendemen gula itu bisa dinaikan lagi. Masih ada lah space dan ruangan untuk melakukan hal tersebut," papar Hermanto.

Baca: Tetapkan HET 3 Komoditas, Asosiasi Ritel dan Distributor Teken MoU

Jika penghasil tebu memiliki produktivitas yang tinggi maka para industri memiliki produktivitas yang tinggi pula. Petani bakal mendapat pendapatan tinggi, sedangkan pabrik juga bakal mendapatkan produktivitas yang tinggi lewat penambahan rendemen.

Hermanto mengakui bahwa saat ini PT Perkebunan Nusantara selaku BUMN gula masih memproduksi dengan rendemen yang rendah. Ini karena faktor efisiensi mesin giling dan overheat pabrik.

"Bukan hanya produktivitas petani saja, pabrik gulanya juga. Jadi dua-duanya harus diatasi," tutup Hermanto.

 


(AHL)