Bisnis Belanja Daring Tak Jadi Musuh Penjual Offline

Nia Deviyana    •    Rabu, 12 Dec 2018 19:11 WIB
belanja online
Bisnis Belanja Daring Tak Jadi Musuh Penjual <i>Offline</i>
Belanja Online. Dok : MI.

Jakarta: PT Mega Perintis Tbk yang bergerak pada ritel fesyen tidak khawatir pada melesatnya penjualan online. Seperti diketahui, perusahaan berkode ZONE ini lebih memusatkan penjualan di gerai offline ketimbang penjualan online.

"Kalau bagi kami yang punya brand, toko online enggak jadi ancaman, mau konsumen belanja online atau offline enggak masalah. Yang jadi ancaman tentunya bagi retailer yang tidak punya brand sendiri," ujar CEO PT Mega Perintis Tbk FX Afat Adinata di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu, 12 Desember 2018.

Afat menambahkan, meski berbelanja online cenderung lebih mudah, masyarakat Indonesia masih memiliki kecenderungan untuk melihat produk secara langsung sehingga pertumbuhan penjualan secara offline masih akan tinggi. Untuk ritel di bawah naungan PT Mega Perintis Tbk, Afat mencatat pembelian barang dari toko offline masih mendominasi di angka 95 persen.

"Masih banyak orang Indonesia yang kalau belanja harus lihat produknya. Lagipula kalau dicermati, pola belanja online dan offline juga berbeda, kalau online orang melakukannya saat weekdays, kalau offline saat weekend. Jadi saya rasa enggak akan mematikan satu sama lain," paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Saham PT Mega Perintis Tbk melesat 49,66 persen saat pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 12 Desember 2018. ZONE melepas 197 juta lembar saham atau setara dengan 24,72 persen dari modal yang ditempatkan dengan harga Rp298 per saham.

Pada saat listing perdana, saham perseroan meningkat 148 poin dari harga penawaran Rp298 menjadi Rp446. Dari penjualan 197 juta saham kepada publik, ZONE memperoleh tambahan dana segar sebesar Rp58,70 miliar.

"Langkah perseroan untuk IPO adalah bagian dari strategi meningkatkan kapasitas pendanaan perusahaan dan tata kelola untuk lebih baik lagi," kata Afat.

Afat memaparkan, sekitar 43 persen dana hasil IPO akan dialokasikan untuk penambahan modal kerja, 31 persen untuk pengembangan usaha, dan 26 persen untuk mengembalikan fasilitas short term loan seasonal dari perbankan.


(SAW)