Kenaikan Impor Sejalan dengan Tren Akhir Tahun

Eko Nordiansyah    •    Rabu, 15 Nov 2017 15:55 WIB
imporbps
Kenaikan Impor Sejalan dengan Tren Akhir Tahun
Kepala BPS Suhariyanto. (FOTO: MTVN/Husen Miftahudin)

Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia Oktober 2017 mencapai USD14,19 miliar atau naik 11,04 persen dibanding September 2017. Kenaikan juga dicatatkan oleh impor Oktober 2017 jika dibandingkan dengan Oktober 2016 yang meningkat 23,33 persen.

"Nilai impor kita agak tinggi di Oktober, dan kalu dilihat tren November-Desember biasanya agak meningkat, sejalan dengan pola yang ada di ekspor," kata Kepala BPS Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Jalan dr Sutomo, Jakarta Pusat, Rabu 15 November 2017.

Impor nonmigas Oktober 2017 mencapai USD11,99 miliar atau naik 10,52 persen dibanding September 2017, demikian pula jika dibanding Oktober 2016 meningkat 20,33 persen. Impor migas Oktober 2017 mencapai USD2,20 miliar atau naik 13,96 persen dibanding September 2017 dan juga meningkat 42,67 persen dibanding Oktober 2016.

Dirinya menambahkan, peningkatan impor nonmigas terbesar Oktober 2017 dibanding September 2017 adalah golongan besi dan baja USD182,9 juta atau 28,68 persen, sedangkan penurunan terbesar adalah golongan bahan bakar mineral sebesar USD57,0 juta atau 52,10 persen.

Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari hingga Oktober 2017 ditempa  oleh Tiongkok dengan nilai USD27,98 miliar atau 26,12 persen, Jepang USD12,37 miliar atau 11,55 persen, dan Thailand USD7,64 miliar atau 7,13 persen. Impor nonmigas dari Asean 20,50 persen, sementara dari Uni Eropa 9,34 persen.

Nilai impor semua golongan penggunaan barang baik barang konsumsi, bahan baku/penolong dan barang modal selama Januari hingga Oktober 2017 mengalami peningkatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing 13,48 persen, 16,32 persen, dan 9,54 persen.

Lebih lanjut, kenaikan impor bahan baku/penolong memang dipengaruhi oleh ketergantungan bahan baku dari sektor industri. Ke depannya, Suhariyanto berharap jika bahan baku yang bisa diproduksi di dalam negeri bisa mengurangi ketergantungan impor bahan baku/penolong.

"Kita perlu memperhatikan secara detail jenis bahan baku/penolong yang bisa diproduksi dalam negeri dan tidak. Misal bahan baku kalau untuk industri mi itu kan dari gandum. Kita enggak bisa tanam gandum, ya kita impor. Tapi menurut saya masih banyak produk yang masih bisa dihasilkan dalam negeri," pungkasnya.

 


(AHL)