Peralihan Konsumen ke Belanja Online Masih Kecil

Arga sumantri    •    Minggu, 10 Dec 2017 02:31 WIB
belanja online
Peralihan Konsumen ke Belanja Online Masih Kecil
Warga menggunakan perangkat laptop untuk berbelanja daring di daerah Tangerang, Banten, Rabu (24/6). ANT/Lucky R.

Bogor: Salah satu penyebab tutupnya beberapa gerai besar ternama diduga lantaran adanya peralihan belanja konsumen ke e-commerce. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) justru mendapati peralihan konsumen ke belanja daring masih sangat kecil.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Sri Soelistyowati menyebut, share belanja daring terhadap total konsumsi rumah tangga saat ini tercatat tak mencapai satu persen.

"Hanya 0,89 persen. Jadi, masih sangat sedikit," kata Sri dalam Workshop Peningkatan Wawasan Statistik di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu 9 Desember 2017.

Sri menilai, gerai ritel modern yang tutup, lebih karena pergeseran pola perilaku konsumen yang sudah tidak lagi belanja barang kebutuhan sehari-hari. Warga cenderung mengeluarkan uang untuk hal lain, misal rekreasi, makan di restoran, menginap di hotel, serta menikmati hal bermuatan budaya atau diistilahkan leisure

"Terjadi pergeseran dari non-leisure ke leisure. Ini yang mesti digenjot, supaya orang Indonesia enggak leisure ke luar negeri, tetapi di dalam negeri," ujar Sri.

Sri mengatakan, sampai saat ini belum ada data pasti mengenai total transaksi belanja daring yang terjadi di Indonesia. Pihaknya masih menyusun data tersebut dengan melakukan sejumlah survei serta memantapkan program pemerintah untuk membuat regulasi e-commerce. Nantinya, data kegiatan e-commerce akan dikelola oleh BPS.

Sri menambahkan, peran transaksi e-commerce terhadap produk domestik bruto (PDB) juga masih minim. Kontribusi transaksi belanja daring saat ini hanya berkisar satu hingga dua persen dari total transaksi perdagangan konvensional. 

"Hasil survei kita, masih sangat kecil," ujarnya. 


(DRI)