Kesiapan SDM Kunci Utama Hadapi Revolusi 4.0

Suci Sedya Utami    •    Sabtu, 07 Jul 2018 16:55 WIB
Revolusi Industri 4.0
Kesiapan SDM Kunci Utama Hadapi Revolusi 4.0
Ilustrasi. ANT/Umarul Faruq

Jakarta: Revolusi industri jilid empat atau yang dikenal dengan revolusi 4.0 merupakan sebuah keniscayaan. Pemerintah diminta untuk tidak latah merespons perkembangan industri yang ditandai dengan terpaan teknologi ini.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengatakan revolusi 4.0 merupakan hasil dari proses kreatif yang ternyata memiliki dampak negatif bagi sebagian orang yang tidak siap menghadapi sebab tentu akan tertinggal. Dirinya pun mempertanyakan apakah Indonesia sudah benar-benar siap menghadapi revolusi 4.0 yang muncul sejak 2016 lalu. 

"Untuk Indonesia kita siap enggak? Jangan-jangan cuma jadi hype saja, orang-orang latah pada revolusi industri 4.0, padahal enggak ngerti maknanya seperti apa," kata Fithra dalam diskusi bertajuk  bersiap di era revolusi industri 4.0, di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 7 Juni 2018.

Fithra mengatakan revolusi 4.0 memang penting untuk dimanfaatkan. Namun untuk bisa menghadapinya hal utama yang perlu diberesi terkait dengan sumber daya manusia (SDM) yang diketahui 70-80 persen dari total tenaga kerja Indonesia merupakan lulusan sekolah menengah atas atau kejuruan (SMA/ SMK) ke bawah.

Sebab dalam revolusi 4.0 yang dihadapi yakni kecepatan teknologi. Sehingga jika SDM-nya tidak siap dan tidak memadai maka tentu akan tertinggal. Apalagi dalam realitanya kualitas lulusan SMK kini tidak siap bekerja karena kurikulum yang tertinggal.

Namun dia pun paham untuk membereskan kualitas SDM bukan hanya tugas pemerintah. Apalagi data menyebutkan jika pengajar atau instruktur SDM di balai latihan kerja (BLK) di Indonesia hanya 1.200 orang. Dibanding Jerman yang 133 ribu orang Indonesia jauh tertinggal.

"Maka butuh koalisi antarunit industri, universitas, pemerintah dan komunitas untuk menyiapkan hal ini. Ini yang jadi pekerjaan rumah untuk kita," tutur Fitra.

Dalam kesempatan yang sama Dirjen Ketahanan Industri dan Pengembangan Akses Industri Internasional Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan pihaknya telah meluncurkan program pendidikan vokasi link and match di setiap provinsi.

Gusti menjelaskan program ini mengharuskan setiap industri di daerah berkolaborasi dengan SMK di daerah tersebut. Selain tu membuat jaringan terkait cara pengembangan SDM dengan Jerman dan Swiss yang kemudian diadopsi di dalam negeri.

"Kami juga berikan dua sertifikat bagi siswa SMK yang mana dia dapat sertifikat dari Kementerian Pendidikan dan sertifikat kompetensi misalnya dia mampu ngelas, bongkar mesin, operasikan mesin. Nanti dia dapat sesuai kompetensinya," jelas Gusti.


(SCI)