Prospek Industri Pariwisata Indonesia Cerah di 2017

   •    Selasa, 29 Nov 2016 22:08 WIB
pariwisata
Prospek Industri Pariwisata Indonesia Cerah di 2017
Ilustrasi. (Foto: Antara/Teresia May).

Metrotvnews.com, Jakarta: Prospek industri pariwisata Indonesia 2017 masih cerah dengan catatan jika kondisi di dalam negeri kondusif dan aman sekali pun perekonomian global diperkirakan masih belum terlalu pulih.

"Kami tidak melihat terdapat suatu isu yang mengancam industri pariwisata nasional, mengingat kondisi keamanan di Indonesia yang relatif stabil," kata Presiden and CEO Smailing Tour Anthony Akili kepada pers di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Selasa (29/11/2016).

Hal tersebut disampaikan terkait dengan perayaan 40 tahun Smailing Tour, sebuah perusahaan tour and travel pariwisata nasional yang berawal dari penjualan tiket di 1976.

Menurutnya, jika kondisi di Indonesia aman maka masyarakat akan dapat berusaha dan bekerja dengan tenang sehingga bisa menghasilkan uang, dan kemudian membelanjakan untuk jalan-jalan atau berlibur.

"Saat ini wisata sudah menjadi suatu kebutuhan mendasar bagi individu dan keluarga," katanya.

Dia berharap, walaupun kondisi perekonomian global belum menunjukkan pertumbuhan yang berarti, namun situasi politik dan keamanan di Indonesia bisa stabil karena situasi seperti itu yang diinginkan oleh semua pebisnis yang bergerak di sektor apapun.

"Kita memprediksi target pertumbuhan pendapatan untuk 2017 sebesar 10-12 persen. Itu adalah target pertumbuhan konservatif, sama dengan 2016," tambah dia.

Terkait dengan adanya 10 destinasi pariwisata yang ditetapkan oleh pemerintah, Anthony menilai memberikan dukungan tersebut dan sudah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana untuk mengajak wisatawan datang ke lokasi itu.

"Sejumlah wisatawan mancanegara seperti dari Eropa dan Asia sudah ada yang kita arahkan pergi ke sepuluh lokasi tersebut," tuturnya.

Sepuluh tujuan wisata tersebut adalah Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Pulau Morotai (Maluku Utara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Danau Toba (Smuatera Utara), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Borobudur (Jawa Tengah), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Tanjung Lesung (Banten), Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur), serta Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur).

Untuk kondisi pariwisata nasional 2016, diakui cukup berat serta menghadapi banyak tantangan terutama untuk wisata ke luar negeri sebagai dampak perekonomian internasional yang kurang mendukung. Meskipun demikian perusahaan tahun ini masih bisa meraih pertumbuhan pendapatan sekitar 10 persen.

"Sampai dengan November 2016 saja perusahaan sudah ada keuntungan 9,5 persen dan sampai akhir tahun bisa 10 persen," lanjut dia.

Pendiri Smailing Tour Rudy Akili mengatakan, industri pariwisata di Indonesia memang sangat ketat dan pangsa yang diraih oleh sebuah perusahaan tak bisa lebih dari 10 persen.

"Kami saja pangsanya hanya 10-11 persen dari total pangsa industri pariwisata di Indonesia. 'Kue' industri pariwisata memang tidak besar dan harus dibagi oleh perusahaan sejenis yang saat ini sangat banyak," pungkasnya.


(AHL)