Pemerintah Jajaki Ekspor Kenari

Fathia Nurul Haq    •    Selasa, 18 Oct 2016 06:10 WIB
ekspor
Pemerintah Jajaki Ekspor Kenari
Enggar MI Galih PradiptaEnggar MI Galih Pradipta

Metrotvnews.com, Jakarta: Ditengah lesunya geliat ekspor, petani kenari kesulitan mengekspor komoditasnya lantaran belum adanya kode HS untuk kenari. Hal inilah yang sedang diupayakan oleh pemerintah agar kode HS cepat muncul.

"Ada beberapa masukan, bukan hanya dari Kemendag tapi instansi lain tapi saya rasa dapat kita atasi, antara lain supaya bisa ekspor kenari. HS nya belum ada," jelas Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di Jakarta, Minggu (17/10).

Enggar mengatakan pihaknya segera berkoordinasi dengan Direktorat Bea dan Cukai terkait HS untuk kenari.

"Supaya bisa diekspor oleh petani Maluku Utara," lanjut Enggar.

Langkah ini menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo penting untuk mendapat perhatian. Pasalnya, ekspor nasional baik dari sektor migas maupun non migas terus mengalami penurunan.

Bahkan, BPS mencatat ekspor pertanian Januari-September 2016 terdepresiasi 17,44 persen dibanding total nilai periode yang sama tahun lalu. Saat ini totalnya mencapai USD2,3 miliar. Ekspor non migas sendiri mengalami depresiasi 6,09% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Menurut Sasmito, hal ini terjadi lantaran pasokan yang kurang sehingga untuk beberapa komoditas pertanian seperti coklat, pemerintah malah mengimpor. Kenari, menurut Sasmito, merupakan komoditas dengan cita rasa eksotis yang memiliki prospek pasar baik di negara-negara maju.

"Kenari itu kan sebetulnya kita kasih eskrim, dikasih biji kenari. Sebagai alternatif. Sifatnya eksotik," kata Sasmito saat ditemui terpisah.

Profil kenari menurutnya potensial untuk mengisi pasar ekspor menengah atas seperti Eropa, Amerika dan Tiongkok.

Selain potensial memperbesar pangsa ekspor di negara maju, kenari juga bisa meningkatkan partisipasi petani dalam perdagangan internasional. BPS mencatat selama ini petani pengekspor mayoritas berasal dari Jawa Barat, Jawa Timur dan Kalimantan Timur.


(SAW)