Pelopor Isu Rush Money Dinilai Tidak Paham Peranan Perbankan

Suci Sedya Utami    •    Jumat, 25 Nov 2016 09:14 WIB
perbankanrush money
Pelopor Isu <i>Rush Money</i> Dinilai Tidak Paham Peranan Perbankan
Anggota DK LPS Destry Damayanti (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Metrotvnews.com, Jakarta: Anggota Dewan Komisioner (DK) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Destry Damayanti menilai adanya isu mengenai gerakan rush money atau menarik uang besar-besaran dari perbankan sangat menganggu aktivitas utamanya untuk masyarakat menengah ke bawah. Isu itu sedikit banyak meresahkan dan seharusnya tidak dilakukan.

Destry menilai, pelopor isu rush money yang rencananya akan dilakukan pada Jumat 25 November ini tidak memahami betapa pentingnya peranan sektor perbankan terhadap perekonomian secara keseluruhan. Tentu kondisi semacam ini diharapkan tidak terjadi dan seluruh masyarakat ikut serta menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya jika yang membuat isu tersebut bertujuan untuk menyakiti kelompok tertentu sebagai bentuk protes maka yang bersangkutan salah besar. Pasalnya ada 180 juta akun rekening di perbankan, sementara kelompok yang dituju paling hanya beberapa yang mempunyai rekening.

Baca: Polri Selisik Provokator Ajakan Rush Money

Selebihnya, lanjut Destry, adalah rekening masyarakat kelas menengah dan kecil. "Isunya itu annoying saja. Menggangu sekali dan itu kasihan sekali buat masyarakat bawah yang enggak terlalu mengerti," kata Destry, di Jakarta, Jumat (25/11/2016).

Misalnya, Destry memberi contoh, ada orang punya dana dalam jumlah besar ingin melakukan rush money maka akibatnya bank harus menaikkan tingkat likuiditas. Namun di sisi lain, bank harus memberi pinjaman kredit ke masyarakat lebih besar di tengah melemahnya permintaan kredit.

Baca: Penebar Isu Rush Money Terdeteksi

Tentu kondisi itu tidak akan sejalan lantaran perbankan membutuhkan likuiditas untuk menyalurkan kredit ke masyarakat. Apabila rush money dilakukan, penyaluran kredit akan terhambat dan tentunya aktivitas ekonomi akan terganggu. Hal ini akan memberikan efek cukup luas.


Anggota DK LPS Destry Damayanti (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Menurut Destry, gerakan rush money biasanya terjadi saat kondisi kepercayaan sudah tidak ada kepada industri perbankan. Jika kepercayaan hilang maka nasabah akan memilih menarik uangnya. Hal itu terjadi ketika Yunani mengalami default atau gagal membayar utang dan warga Yunani berbondong-bondong antre di depan bank untuk mengambil uangnya.

"Nah sekarang kita apa? kita enggak ada apa-apa terjadi, bank kita alhamdulilah dalam keadaan bagus. Non Performing Loan (NPL) naik wajar karena ekonomi bisnis melambat, jadi pertumbuhannya ikut lambat," ujar dia.

Baca: Polri Kejar Penyebar lsu Rush Money

Lebih lanjut, Direktur Eksekutif Mandiri Institute ini percaya, isu tersebut tak akan terjadi. Sebab, pemerintah dan otoritas keuangan sudah mengantisipasi. Pemerintah sudah punya banyak instrumen antisipasi, dan Bank Indonesia (BI) sudah menggelontorkan likuiditas melalui GWM.

"Saya berbicara sama teman-teman bank, mereka bilang normal-normal saja. Meskipun tak ada gejolak tapi mereka akan pantau," pungkas dia.

 


(ABD)