Indonesia Siap Edukasi UMKM dengan Fintech

M Studio    •    Minggu, 14 Oct 2018 23:48 WIB
Berita Kemenkop UKM
Indonesia Siap Edukasi UMKM dengan Fintech
Kemenkop UKM mengedukasi para pelaku UMKM di Tanah Air dengan materi fintech (Foto:Dok.Kemenkop UKM)

Nusa Dua, Bali: Indonesia melalui Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) mulai mengedukasi para pelaku UMKM di Tanah Air dengan materi fintech sebagai salah satu bahan bahasan besar dalam pertemuan tahunan  IMF-WB 2018.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar acara Seminar Fintech Talk di Hotel Ayana, Bali, Jumat 12 Oktober, sebagai salah satu rangkaian acara dalam pertemuan IMF-WB 2018.

Pada kesempatan itu hadir Ketua OJK Wimboh Santoso, Professor Columbia University Joseph Stiglitz, Professor Stanford University John B Taylor, Chancellor of the Exchequer UK Philip A Hammond, Tsing Hua National Institute of Financial Research Ma Jun.

“Tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini adalah meningkatkan literasi masyarakat terhadap produk keuangan digital," kata Deputi Bidang Pembiayaan Kemenkop UKM Yuana Sutyowati, dalam siaran persnya di Nusa Dua Bali, Minggu, 14 Oktober 2018.

Ia mengatakan teknologi finansial (fintech) berpeluang menjadi platform untuk meningkatkan akses pendanaan bagi segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta keuangan syariah. 

Fintech, kata dia, juga memiliki fleksibilitas dengan layanan dan produk yang lebih mudah menjangkau konsumen dibandingkan layanan jasa keuangan konvensional.

"Tingkat penetrasi fintech yang tinggi akan mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat, terutama segmen yang tidak memiliki akses terhadap keuangan, seperti UMKM," katanya.

Di Indonesia segmen UMKM berperan besar dalam perekonomian karena menyerap 60 persen dari lapangan pekerjaan dan berkontribusi hingga 40 persen dari PDB. 


Deputi Bidang Pembiayaan Kemenkop UKM Yuana Sutyowati (Foto:Dok.Kemenkop UKM)

"Maka keberadaan dan penggunaan fintech saat ini akan sesuai dengan tuntutan masyarakat Indonesia dengan posisi geografis yang berbentuk kepulauan dan tersebar luas," katanya.

Terlebih karena fintech bisa bergerak di berbagai lini jasa keuangan, bukan hanya P2P lending.  Ada sektor lainnya, seperti pembayaran, asuransi, tabungan, pengelolaan investasi, hingga pengumpulan dana.

Bank Indonesia mendefinisikan financial technology atau fintech sebagai hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat. Yang awalnya dalam membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat bertransaksi jarak jauh dengan melakukan pembayaran dalam hitungan detik.

Yuana melihat saat ini banyak orang membeli produk keuangan secara digital tapi tidak memahami cara menggunakannya. Oleh karena itu, literasi mengenai produk-produk jasa keuangan harus terus ditingkatkan.

"Kami secara khusus memberikan apresiasi kepada OJK atas terselenggaranya seminar fintech ini dan berharap dapat mengedukasi masyarakat terhadap layanan keuangan berbasis teknologi," katanya.


(ROS)

Menperin Sampaikan Kesiapan Revolusi Industri 4.0 di Swiss
World Economic Forum 2019

Menperin Sampaikan Kesiapan Revolusi Industri 4.0 di Swiss

7 hours Ago

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga menegaskan Indonesia siap menyongsong era revolusi i…

BERITA LAINNYA