Merintis Bisnis Startup dari Pengalaman Pribadi

Ade Hapsari Lestarini    •    Sabtu, 25 Nov 2017 17:52 WIB
dunia usaha
Merintis Bisnis <i>Startup</i> dari Pengalaman Pribadi
Aplikasi Gawe. (Foto: istimewa)

Jakarta: Menjadi mahasiswa mempunyai banyak kisah yang menarik untuk dikenang. Apalagi jika menjadi mahasiswa rantau yang senantiasa menanti kiriman uang bulanan dari orangtua untuk menyambung hidup di kota orang.

Namun, beberapa dari mahasiswa yang tak ingin merepotkan orangtuanya, pasti akan berusaha mencari uang sendiri untuk menambal kebutuhan mereka sehari-hari. Pekerjaan serabutan pun diambil demi memenuhi kebutuhan tersebut, selama tidak mengganggu jadwal kuliah.

Kondisi tersebut dialami oleh tiga anak muda yang merasa kesulitan mencari pekerjaan di saat mereka harus memenuhi kebutuhannya tanpa harus merepotkan orangtua. Masalah klasik ini menjadi dasar untuk melakukan inovasi secara teknologi, bagaimana mengatasi hal tersebut.

Merasa kesulitan itulah, mereka mendirikan bisnis startup dan membuat aplikasi GAWE. Aplikasi ini mempertemukan kebutuhan antara pengusaha kecil dan menengah soal kebutuhan tenaga kerja harian, dengan orang yang membutuhkan pekerjaan sementara.

Saat ini banyak bermunculan aplikasi tentang pekerjaan, tapi sayangnya belum ada aplikasi yang bisa menghadirkan kebutuhan mengenai pegawai sementara (temporary employee) secara real time. Saat ini, baru ada aplikasi yang dibatasi dengan kategori pekerjaan tertentu, dan tidak real time.

Sementara dengan berkembangnya usaha online saat ini, sangat dibutuhkan ketersediaan pegawai temporer yang bisa dikontak dengan cepat, misalnya saat pengusaha membutuhkan tenaga kerja untuk order yang lagi banyak, pegawe temporernya bisa langsung datang dan bekerja.

Adalah Kurniawan Aryanto, salah satu Co-founder Gawe. Dia mengatakan aplikasi ini membantu orang banyak untuk mendapatkan penghasilan, sehingga bisa menghidupi banyak kalangan. Kenapa bisa membantu orang banyak, karena bisa dilakukan semua orang tanpa keahlian khusus, tanpa modal dan cepat mendapatkan pekerjaan.

"Di sisi pengusaha kecil menengah, ketersediaan pekerja temporer atau harian dapat meringankan biaya beban perusahaan dari sisi sumber daya manusia, karena tidak semua pekerjaan membutuhkan tenaga permanen," ungkap Kurniawan, Sabtu, 25 November 2017.

Sedangkan buat tenaga kerja, dengan adanya banyak pemutusan hubungan kerja akhir-akhir ini, aplikasi pekerjaan sangat dibutuhkan, terutama yang bersifat sementara atau harian. "Karena bisa menopang kehidupan sehari-hari, saat sedang menunggu untuk mendapatkan kembali pekerjaan yang bersifat permanen," jelas Kurniawan.

Senada, Elroy Hafidi Hardoyo CEO Gawe mengungkapkan pengalamannya. Dia menceritakan temannya yang memiliki bisnis waralaba makanan, mempunyai kendala saat stafnya tiba-tiba absen dan sakit. Dia memerlukan karyawan pengganti seketika, tetapi kesulitan mencari orang, sementara beberapa mahasiswa pelanggan rumah makan tersebut banyak yang mengirimkan pesan singkat untuk menanyakan pekerjaan part time.

"Dari sinilah kita punya ide membuat aplikasi ini," kata Elroy singkat.

Elroy pun menyasar pekerjanya seorang mahasiswa karena banyak dari mereka yang ingin bekerja sambilan. "Kita ingin mendukung banyak anak mahasiswa menyelesaikan kuliahnya tanpa takut terkendala biaya, dan ini bisa menjadi pengalaman mereka untuk masuk di dunia kerja ataupun mengasah kemampuan mereka untuk menjadi pengusaha," tutur Elroy.

Mneurut dia, aplikasi Gawe membantu pengusaha kecil dalam mencari pegawai sementara, di saat bisnisnya banyak mendapatkan order atau ada pegawai yang tidak masuk. Ini adalah model bisnis yang menggerakkan perekonomian dan tidak menggantikan pekerjaan yang sudah ada seperti aplikasi lain melainkan menghubungkan antara kebutuhan pegawai sementara yang diperlukan usaha kecil-menengah dengan tenaga kerja yang membutuhkan pekerjaan.  

Elroy menegaskan mereka tidak khawatir dengan persaingan yang ada, karena produk lain seperti ini yang real time dan tanpa klasifikasi pekerjaan belum ada.

"Kalau pun ada kita dengan senang hati mereka ada, karena dengan begitu ekosistemnya akan terbentuk, sehingga cara mengenalkan aplikasi Gawe ke masyarakat akan lebih mudah," kata Elroy.

Co-founder Gawe lainnya Budiarto Harsono menjelaskan aplikasi ini diluncurkan pada 17 November 2017, dan diharapkan bisa segera menjangkau seluruh wilayah Jabodetabek. "Kita harus membangun di mana ada employee disitu harus ada employer, kedua hal ini harus tumbuh berkembang seiring sejalan," jelas Budiarto.

Mencari Pendanaan

Setelah konsep Gawe terbukti berjalan, mereka akan segera mencari pendanaan Seri A melalui dana ventura. Budiarto mengungkapkan saat ini sudah ada yang mendekati, namun mereka ingin mencari partner yang mempunyai visi yang sama dalam membangun dan mengembangkan aplikasi Gawe.

"Value and purpose dari aplikasi ini adalah bagaimana bisa menggerakkan perekonomian dengan mempertemukan kebutuhan UKM mengenai ketenagakerjaan, dengan tenaga kerja yang memang membutuhkan pekerjaan. Kalau tenaga kerja tersebut nantinya mendapatkan tawaran pekerjaan tetap, ya itu akan menjadi hak mereka. Justru kita akan sangat senang bila itu terjadi," jelas Budiarto.

Budiarto menargetkan aplikasi ini tidak hanya bisa digunakan oleh masyarakat Asia, tetapi hingga ke Asia Tenggara. "Target kami adalah Asia Tenggara dulu, dan menyusul segera ke Asia lainnya. Untuk informasi lebih lanjut bisa mampir ke website gawe.asia," pungkasnya.


(AHL)