BI Lirik Pengembangan Fintech Syariah

Eko Nordiansyah    •    Jumat, 10 Nov 2017 18:13 WIB
bank indonesiafintech
BI Lirik Pengembangan Fintech Syariah
Deputi Gubernur BI Sugeng. (FOTO: MTVN/Eko Nordiansyah)

Surabaya: Bank Indonesia (BI) menilai jika peluang pengembangan teknologi finansial (fintech) syariah memang dianggap cukup besar, seperti terlihat dari fenomena kemunculan fintech syariah yang telah terjadi di berbagai belahan dunia. Indonesia pun memiliki peluang penerapaan fintech syariah yang besar, yang dapat membawa berbagai manfaat.

Deputi Gubernur BI Sugeng mengatakan, seiring berkembangnya teknologi informasi, teknologi finansial berkembang pesat di seluruh dunia. Fintech muncul dalam berbagai bentuk dan skema, termasuk fintech syariah yang mulai berkembang di berbagai negara di dunia.

"Beberapa negara, seperti Dubai, Kanada, Singapura dan Malaysia, telah memiliki tekfin syariah dalam berbagai bentuk, antara lain yang berfokus pada pemberian pinjaman," kata Sugeng di Grand City Convention Center, Surabaya, Jumat 10 November 2017.

Saat ini pengembangan fintech maupun pengembangan ekonomi syariah merupakan hal yang menjadi perhatian Indonesia. BI memandang bahwa penerapan teknologi finansial dalam skema syariah tetap perlu mengacu pada focus pengembangan ekonomi Syariah di Indonesia.

"Dalam hal ini, beberapa hal perlu menjadi perhatian, yaitu penguatan aspek kelembagaan infrastruktur fintech syariah, penerapan fintech secara efisien dan tepat guna, serta sosialisasi dari para pelaku fintech ke lembaga-lembaga keuangan syariah di Indonesia serta peningkatan pemahaman masyarakat pada umumnya," jelas dia.

Sedangkan dari sisi aplikasinya, banyak bidang usaha yang berpotensi untuk disentuh fintech syariah, misalnya kemandirian pesantren berbasis teknologi. Dengan banyaknya produk-produk berkualitas yang dihasilkan oleh berbagai pesantren, fintech syariah dapat menyediakan platform kerja sama saling suplai hasil produk antar pesantren.

Sementara di bidang lain, seperti wisata halal, potensi kehadiran fintech untuk memfasilitasi layanan pembayaran atau pemasaran juga sangat besar. Namun dalam menggali potensi fintech berbasis syariah di Indonesia, usaha seluruh pihak harus dikerahkan.

"Rambu-rambu syariah di area fintech, mulai dari akad, syarat, rukun, hukum, administrasi pajak, akuntansi, hingga audit, perlu diyakini dan dijaga dengan baik. Oleh karenanya, para akademisi, pakar fiqih, regulator, praktisi keuangan, dan pelaku startup perlu duduk bersama dan bersinergi untuk terus melakukan kajian, pengembangan serta pengawasan terhadap aplikasi fintech berbasis syariah, khususnya di Indonesia," pungkasnya.

 


(AHL)