Digitalisasi Jangan Ciptakan Pengangguran

   •    Selasa, 14 Nov 2017 10:51 WIB
e-commercepajak e-commerce
Digitalisasi Jangan Ciptakan Pengangguran
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Ahmad)

Jakarta: Era digitalisasi yang mulai menyentuh sendi-sendi kehidupan, khususnya kesempatan kerja, tidak lepas dari pengamatan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan saat ini pihaknya tengah menelaah dampak digitalisasi ekonomi terhadap penciptaan kesempatan kerja. Tujuan kajian itu jangan sampai era digital justru makin menambah tingkat pengangguran yang saat ini di kisaran tujuh juta orang.

Apalagi, pada tahun mendatang terjadi bonus demografi yang membuat angka usia produktif yang membutuhkan lapangan kerja bertambah.

"Jangan sampai nanti ketika terjadi era e-commerce yang masif tidak hanya ritel, tapi juga perbankan dan jasa lain, efeknya mengurangi orang maka akan terjadi masalah pengangguran yang berat ditambah ada bonus demografi," ujar Bambang di Gedung Bappenas Jakarta, Senin 13 November.

Dalam kajian itu juga akan dipotret tenaga kerja seperti apa yang dibutuhkan di era digital dan apakah saat ini ada mismatch antara skill tenaga kerja yang ada di pasar dan kebutuhan. Meski kajian masih berlangsung, salah satu yang harus diperbaiki Indonesia untuk antispasi era digital ialah pendidikan vokasi.




"Kenapa vokasi menjadi prioritas? Itu salah satu cara pemerintah untuk antisipasi era digital karena ada jenis pekerjaan yang tidak mudah digantikan begitu saja oleh teknologi. Contoh potong rambut, perbaikan pipa, sehingga butuh vokasi yang berkualitas," tukasnya.

Bambang mengakui saat ini pendidikan vokasi di Indonesia masih perlu perbaikan baik dari sisi kurikulum, alat praktik, kualitas guru, dan pemagangan. Fakta yang terjadi saat ini perusahaan-perusahaan enggan merekrut lulusan kejuruan dan lebih memilih lulusan dari sekolah umum.

Hal itu antara lain disebabkan mismatch antara kebutuhan perusahaan dan ketersediaan lapangan kerja. Akibatnya sekolah kejuruan (SMK) justru menjadi penyumbang terbesar angka pengangguran, yakni 11,41 persen.

Peluang Baru

Saat dihubungi terpisah, ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai era ekonomi digital tidak selalu berdampak buruk bagi penyerapan tenaga kerja. Hasil riset di Prancis, misalnya, dalam kurun 15 tahun terakhir ada 500 ribu pekerjaan yang hilang akibat internet.

Namun, di sisi lain, internet juga menciptakan 1,2 juta lapangan kerja baru. "Saat ini di Indonesia misalnya adanya transportasi online justru mampu menciptakan 1 juta lapangan pekerjaan baru," ucapnya.

Karena itu, Bhima berpendapat pemerintah perlu meningkatkan kapasitas sistem pendidikan pada kurikulum sejak SD agar mencantumkan pelajaran tentang coding atau basic apps developer.




Pemerintah juga harus mendorong perusahaan lokal berinovasi dan bergerak di sektor padat karya dengan memberikan insentif baik fiskal ataupun nonfiskal.

Jika tidak disiapkan sejak dini, akan ada lonjakan drastis pengangguran dan Indonesia bakal terjebak sebagai negara kelas menengah atau middle income trap.

Dalam konteks yang sama, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso berharap industri perbankan dapat memanfaatkan teknologi informasi agar menciptakan efisiensi dalam pelayanan finansial.

Ia meminta penerapan teknologi dilakukan bertahap agar tidak berdampak langsung kepada tenaga kerja. "Diharapkan, perbankan memanfaatkan teknologi secara terukur, tidak langsung big bang sehingga imbas ke tenaga kerja tidak signifikan." (Media Indonesia)


(AHL)