BI Fokus Kembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal

M Studio    •    Rabu, 08 Nov 2017 21:09 WIB
bank indonesia
BI Fokus Kembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal
Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo pada acara ISEF 2017, di Grand City Convention Center, Surabaya, Jawa Timur, Rabu 8 November 2017 (Foto:Metrotvnews.com)

Metrotvnews.com, Jakarta: Jumlah penduduk muslim yang besar dinilai potensial untuk dijadikan kekuatan utama dalam mengembangkan ekonomi syariah. Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar diharapkan bisa menjadi pusat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah pada 2024, dimulai dari pengembangan di berbagai daerah.

Melihat potensi tersebut, Bank Indonesia (BI) berkeyakinan peluang keuangan syariah di Indonesia cukup besar. Hal ini menjadi fokus utama bagaimana potensi tersebut bisa digali secara maksimal, khususnya melalui penyelenggaraan Indonesia Shari'a Economic Festival (ISEF) 2017 yang ke-4 di Surabaya pada 7-11 November 2017.

"Ini seharusnya tidak hanya menjadi komitmen nasional, tapi juga menjadi program yang terkoordinasi dan berkolaborasi dari berbagai lembaga, kementerian, otoritas, asosiasi sampai penggiat ekonomi, dan kita semua," kata Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo pada acara ISEF 2017, di Grand City Convention Center, Surabaya, Jawa Timur, Rabu 8 November 2017.

Dalam penyelenggaraan ISEF kali ini, BI fokus mengembangkan tiga strategi utama untuk mempercepat pusat keuangan syariah. Pertama, adalah bagaimana mempercepat pengembangan ekonomi syariah dalam bentuk pengembangan halal supply chain.

"Jejaring produksi aktivitas ekonomi halal yang terintegrasi, baik yang besar, maupun menengah dan yang kecil. Yang kecil ini termasuk juga pemberdayaan ekonomi pesantren maupun kelompok usaha muslim yang lain. Indonesia perlu menyusun program untuk mempercepat terbentuknya halal supply chain," jelas dia.

Dalam berbagai kesempatan, Indonesia merupakan salah satu pasar terbesar di dunia mengenai kebutuhan halal. Misalnya, makanan, fashion, kosmetik, farmasi, dan lain-lain. "Pada 2015 pernah diperkirakan, jumlah kebutuhan itu sekitar hampir Rp3 ribu triliun. Itu bagaimana kita harus menciptakan pelaku bisnis," ucap Perry.

Strategi kedua, termasuk juga yang terus dilakukan selama ini adalah mempercepat pengembangan sektor keuangan di Indonesia. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang berfokus ke pengembangan perbankan syariah, maka tahun ini perlu dikembangkan berbagai instrumen keuangan, seperti sukuk, dan sertifikasi wakaf.

Strategi ketiga yang menjadi fokus bank sentral adalah bagaimana memperkuat riset, edukasi, dan kampanye mengenai halal lifestyle. Riset yang mendukung pengembangan ekonomi syariah, edukasi kurikulum, dan kewirausahaan harus dikembangkan.

 
(Foto:Metrotvnews.com)

"Ketiga strategi ini yang memang akan dikoordinasikan dengan program dan dikoodinasikan melalui KNKS. Penyelenggaraan dari ISEF 2017 pada 7-11 November ini memang ada kata kolaborasi dan koordinasi. Ini kerja kita bersama. Tidak hanya BI, tapi juga melalui KNKS, pemerintah daerah, termasuk Jawa Timur, dan lain-lain," kata Perry.

Deputi Gubernur BI, Rosmaya Hadi, menyebutkan bahwa dalam ISEF 2017 BI juga mendorong pengembangan kegiatan kewirausahaan dan UMKM berbasis syariah. Ini diturunkan ke dalam empat sektor utama, yaitu integrated framming, halal food and fashion, renewable energy, dan wisata halal.

"Kalau kita lihat, bagaimana empat dari sektor utama itu kita wujudkan berbentuk produk halal dan sehat, dan ada juga Islamic fintech dan startup company, kemudian ada industri keuangan syariah, serta produk terkait wakaf dan zakat. Kalau dulu wakaf itu biasanya untuk kuburan, masjid dan pendidikan, maka kini kita mulai bergerak ke sektor produktif," ujar Rosmaya.

Berdasarkan laporan Economic Global Index pada tahun 2014-2017, Indonesia masuk dalam jajaran top ten industri syariah. Hal ini bisa dilihat dari halal food Indonesia yang berada di peringkat pertama sebagai market, tapi untuk Islamic finance berada di urutan ke-10. Halal travel berada pada ranking kelima sebagai pasar, tapi tidak sebagai pelaku.

"Ini tantangan yang harus kita raih, jangan jadi pasar, tapi juga jadi pelaku. Padahal kita di bidang fashion sudah banyak sekali ahli, ada Dian Pelangi, Jenahara, dan sebagainya. Kemudian, halal media dan recreational ranking keenam sebagai market. Tapi untuk halal kosmetik ini menggembirakan, bahwa kita ranking untuk pemakai keempat, tapi kita sebagai pelaku adalah kedelapan," kata dia.


(ROS)